Densus 88 Sebut Indonesia Kurang Perhatikan Terorisme Dunia Maya

Sonya Michaella    •    Rabu, 30 Nov 2016 17:57 WIB
terorisme
Densus 88 Sebut Indonesia Kurang Perhatikan Terorisme Dunia Maya
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Depok: Sejumlah masalah masih menghambat upaya Densus 88 Antiteror Polri dalam menumpas terorisme yang kian merajalela di Indonesia. Ancaman-ancaman kecil yang meresahkan warga kerap berdatangan. Apalagi, Indonesia pernah beberapa kali dilanda bom.
 
"Ada beberapa hal yang harus dikhawatirkan, terutama perekrutan anggota terorisme lewat dunia internet. Nah, kita sudah kalah duluan di cyber space ini," papar Kabid Investigasi Densus 88, Faisal Tayib, pada Simposium tentang terorisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Rabu (30/11/2016).
 
Dia mengungkapkan, sekitar 500 warga Indonesia sudah menjadi pejuang kelompok militan. Hal ini masih ditelusuri oleh Densus, dari mana mereka pergi dan dengan cara apa mereka direkrut.
 
Pada ASEANPOL Faisal sudah memaparkan kurangnya perhatian Indonesia pada dunia maya. ASEANPOL tempat negara-negara ASEAN berkumpul guna membahas penanggulangan ancaman dan serangan terorisme. 
 
"Gencar sekali mereka di dunia maya. Mereka dengan mudah menyebarkan ideologi-ideologi. Cyber space ini harus kita intervensi bersama-sama," tegasnya lagi.
 
Faisal menjelaskan, banyak format cyber space yang dilakukan kelompok teroris. Akibatnya, Indonesia dan negara-negara lain sering kebobolan. 
 
 
"Kita sudah lakukan pencegahan dengan kontra radikalisasi dan konter naratif. Walaupun harus kami katakan bahwa ini tidak maksimal, dalam tanda petik sangat minimalis. Karena awalnya bersifat sektoral, belum berkembang seperti sekarang," ucapnya.
 
Faisal mengapresiasi kehadiran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini BNPT bisa lebih mengkoordinasikan kementerian-kementerian terkait dan masyarakat.
 
"Jadi kami perkuat intelijen kemudian kami bisa monitor 24 jam apa yang mereka lakukan. Dengan monitoring itu banyak informasi awal yang sifatnya floating serangan bisa kita gagalkan," ungkap Faisal.
 
Kelemahan monitoring, kata Faisal, para petugas harus menunggu terlihatnya gerak-gerak mencurigakan, seperti perancangan bom.
 
"Tapi celakanya kami harus dia bikin bom dulu. Bomnya sudah utuh, sebelum dia menyerang, kami tangkap. Tapi kami juga khawatir kalau terus terusan seperti itu lama-lama kita kebagian bom. Ini salah satu kelemahannya," kata Faisal.



(FJR)