Kepulauan Solomon Belajar Kembangkan Produk Rumput Laut Bernilai Jual

   •    Jumat, 04 Aug 2017 17:59 WIB
indonesia-kepulauan solomon
Kepulauan Solomon Belajar Kembangkan Produk Rumput Laut Bernilai Jual
Program pelatihan untuk pengembangan kapasitas pengembangan rumput laut diberikan ke Kepulauan Solomon (Foto: Antara).

Metrotvnews.com, Letvuan: Pemerintah Indonesia dan Kepulauan Solomon memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara melalui program pelatihan untuk pengembangan kapasitas, yang diberikan Indonesia kepada warga Negara Kepulauan Pasifik itu.
 
"Masyarakat di Kepulauan Maluku dan masyarakat negara Pasifik memiliki banyak kesamaan. Melalui program pelatihan, bukan hanya meningkatkan 'people-to-people contact', ini juga cara saling berbagi untuk kita sama-sama maju dan berkembang," kata Plt Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Niniek Kun Naryati di Letvuan, Maluku Tenggara, Jumat 4 Agustus 2017.
    
Pernyataan tersebut disampaikan Niniek pada acara pelepasan peserta pelatihan pengembangan produk rumput laut dari Solomon. Indonesia memberikan pelatihan kepada warga Kepulauan Solomon dalam mengelola dan mengembangkan produk rumput laut yang mempunyai nilai jual lebih.
 
Kegiatan pelatihan tersebut diikuti oleh empat peserta asal Solomon Islands yang merupakan para nelayan rumput laut. Kegiatan "Pilot Project on Seaweed Product Development For Solomon Islands" itu diselenggarakan pada 12 Juni hingga 5 Agustus di Desa Letvuan, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.
    
"Melalui pelatihan ini kita menjalin persaudaraan, dan melalui persaudaraan diharapkan tidak akan ada hambatan. Saya yakin apa yang dipelajari di sini akan bermanfaat tidak hanya bagi anda di Solomon, tetapi juga bagi masyarakat Letvuan karena sekarang mereka tahu mereka punya saudara di Solomon," ujar Niniek, seperti dikutip dari Antara, Jumat 4 Agustus 2017.
 
Melalui pelatihan tersebut, para warga Solomon tinggal bersama masyarakat Letvuan untuk mempelajari cara-cara penanaman, perawatan, pemanenan, penanganan pasca panen, dan pengolahan produk hasil panen rumput laut.
 
Selain itu, para peserta mempraktikan proses budi daya rumput laut hingga satu siklus tanam dan mempelajari cara mengelola rumput laut menjadi beberapa jenis produk pangan, seperti sirup, puding, jeli, stick rumput laut, dan kerupuk.
 
Kegiatan pelatihan tersebut terselenggara atas kerja sama antara Direktorat Kerja Sama Teknik Kemenlu RI dengan Keuskupan Amboina wilayah Kei Kecil dan Dewan Gereja di Desa Letvuan.
 
Atas bimbingan Keuskupan dan Dewan Gereja di Desa Letvuan, para peserta dari Solomon telah membaur dengan masyarakat Indonesia di Maluku Tenggara, khususnya saat mengikuti berbagai kegiatan pelatihan sehari-hari yang dilakukan bersama warga setempat di Desa Letvuan.
 
"Gagasan utama dari program pelatihan ini adalah ‘people-to-people contact’. Kami berharap keempat peserta dari Solomon yang sudah dianggap menjadi bagian dari masyarakat Letvuan ini dapat menghadirkan rasa persaudaraan dari Maluku Tenggara dan Republik Indonesia di Solomon," tutur Sekretaris Keuskupan Amboina, Pastor Agus Ulahayanan.
 
Dia berharap agar semua hal yang telah dipelajari di Maluku Tenggara oleh para peserta pelatihan pengembangan produk rumput laut dapat bermanfaat dan dapat diimplementasikan di Solomon.
 
"Pelatihan ini juga dimaksudkan untuk lebih memberikan pemahaman tentang Indonesia melalui berbagai pengalaman tentang keberagaman dan kesaharian masyarakat di Indonesia," ucap Pastor Agus.
 
Para peserta dari Solomon juga mendapatkan bimbingan teknis dari tenaga ahli Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan LIPI- Tual serta melakukan 'in-house training' di Desa Letvuan.
 
Frederick Toitoro, seorang warga Solomon peserta pelatihan, berharap cara-cara pengolahan rumput laut menjadi berbagai produk pangan, yang dia pelajari di Indonesia, dapat memberikan nilai tambah bagi hasil rumput laut yang dikembangkan di Kepulauan Solomon.
 
"Kami berharap mendapatkan insentif lebih melalui pengelolaan rumput laut menjadi produk yang lebih beragam," pungkasnya.
 
Dia mengaku bahwa cukup sulit bagi nelayan rumput laut di Solomon untuk memasarkan dan menjual hasil panen rumput laut.
 
"Pelatihan ini telah membuka mata kami dan memberi pengetahuan tentang cara-cara baru untuk mengelola rumput laut menjadi berbagai produk makanan dan minuman yang lebih menarik," ungkap Toitoro.
    
Untuk itu, Frederick menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan masyarakat Maluku Tenggara atas kesempatan belajar yang diberikan untuk mengembangkan keahlian dalam mengelola dan menghasilkan produk rumput laut.
 
"Kami bisa merasakan kepedulian dan kebaikan masyarakat di Letvuan ini merupakan representasi dari kebaikan masyarakat Indonesia pada umumnya," ucapnya.
 
Penghargaan juga disampaikan oleh Duta Besar Kepulauan Solomon untuk Indonesia, Salana Kalu, atas penyelenggaraan program pelatihan pengembangan kapasitas tersebut.
 
Dubes Salana Kalu mengatakan bahwa Indonesia dan Solomon memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan, salah satunya adalah fakta bahwa keduanya merupakan negara kepulauan.
 
"Sebagai sesama negara kepulauan, Indonesia dan Solomon mengalami tantangan-tantangan yang kurang lebih sama, khususnya masalah konektivitas antarpulau dan transportasi," ucap dia.
 
Untuk itu, menurut Salana, pemerintah kedua negara perlu mengutamakan kesamaan antara Solomon dan Indonesia sebagai platform untuk upaya memperkuat kerja sama bilateral.
 
"Jika ada platform untuk meningkatkan kerja sama itu adalah platform kesamaan antara kedua negara. Indonesia dan Solomon mempunyai kesamaan dunia maritim dan sumber daya alam. Hal ini lah yang perlu menjadi fokus bagi pengembangan hubungan kerja sama kedua negara," ujar dia.

(FJR)