Pengawasan Meningkat, Jumlah Pembelot Korut Berkurang

Willy Haryono    •    Jumat, 05 Jan 2018 14:22 WIB
korea utara
Pengawasan Meningkat, Jumlah Pembelot Korut Berkurang
Prajurit Korut bertatap-tatapan dengan prajurit Korsel di desa Panmunjom, DMZ, 27 November 2017. (Foto: AFP/KOREA POOL)

Seoul: Kurang dari 100 warga Korea Utara (Korut) yang membelot ke Korea Selatan (Korsel) di setiap bulannya tahun lalu. Jumlah tersebut merupakan yang terendah dalam 15 tahun terakhir. 

Menurut data Kementerian Unifikasi Korea, seperti dikutip AFP, Jumat 5 Januari 2018, total 1.127 warga Korut datang ke Korsel tahun lalu, turun 21 persen dari 2016. Ini merupakan angka terendah sejak 2001. 

Sebagian besar pembelot dari Korut, negara yang mengalami kekurangan makanan dan terus digempur serangkaian sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), meninggalkan negaranya menuju Tiongkok. 

Mereka biasanya tinggal di Tiongkok selama beberapa hari sebelum nantinya menyeberang ke Korsel. Terdapat pula sejumlah pembelot yang tinggal di negara ketiga sebelum datang ke Seoul. 

"Berkurangnya kedatangan (pembelot) ini sangat mengkhawatirkan karena bukannya kehidupan menjadi lebih baik di Korut, tapi karena otoritas Tiongkok mendukung peningkatan sanksi terhadap ekonomi Korut dan juga memperketat penjagaan di perbatasan," kata Sokeel Park of Liberty yang sering membantu pembelot mencapai Korsel. 



Sae Jae-pyong, seorang petugas dari Asosiasi Pembelot Korut di Seoul, mengatakan banyak broker internasional yang membantu perjalanan pembelot via Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara. Namun para broker ini mengalami kesulitan karena Tiongkok meningkatkan penjagaan. 

Pyongyang juga memperketat perbatasan sejak paruh kedua 2015. Korut menempatkan lebih banyak petugas keamanan dan pagar kawat berduri untuk mencegah warganya kabur ke negara tetangga.

Sementara itu, pembelot yang berusaha kabur dari Korut ke Korsel via Zona Demiliterisasi atau DMZ sangat langka. Tahun 2017, terdapat empat orang yang berani melakukannya, meski diwarnai serentetan tembakan senjata api. 

Hingga akhir Desember, lebih dari 31 ribu warga Korut telah memasuki Korsel sejak 1948. Jumlahnya mencapai puncak di angka 2.914 pada 2009, namun terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

 


(WIL)