Bali Democracy Forum XI

Demokrasi Menjawab Tantangan Kemakmuran

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 04 Dec 2018 08:15 WIB
bali democracy forum
Demokrasi Menjawab Tantangan Kemakmuran
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Cecep Herawan. (Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id).

Jakarta: Demokrasi dianggap sebagai sistem paling baik yang dianut suatu negara. Sebagai negara yang telah lebih dari 20 tahun berdemokrasi, Indonesia dianggap cukup mapan untuk membagikan pengalaman demokrasinya kepada berbagai negara lain di dunia. Karenanya, sejak 11 tahun lalu dibentuk Bali Democracy Forum (BDF).

Agenda tahunan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia ini awalnya hanya berfokus pada kawasan Asia Pasifik. Namun, semakin banyak negara-negara demokrasi yang bergabung dalam forum ini di luar dari kawasan tersebut. Untuk itu, dibuatlah sebuah kegiatan dengan nama BDF Chapter.

BDF Chapter sudah dilakukan dua kali. Tahun lalu di Tunis, Ibu Kota Tunisia yang mewakili kawasan Afrika dan tahun ini di Berlin, Jerman untuk mewakili kawasan Eropa. Tema yang diangkat pun berbeda, sesuai dengan tantangan demokrasi yang dihadapi kawasan tersebut.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Cecep Herawan menuturkan kepada Medcom.id, Senin 3 Desember 2018, mengenai kegiatan BDF XI yang akan diselenggarakan di Bali pada 6 hingga 7 Desember 2018. Cecep membagikan apa yang akan diangkat Indonesia dalam kegiatan yang tahun ini mengambil tema 'Democracy for Prosperity'.

Berikut wawancara tim Medcom.id dengan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Cecep Herawan:

Mengapa BDF tahun ini mengangkat tema 'Democracy for Prosperity'?

Pertama, sebetulnya kita melihat bahwa kajian yang ada menyerukan demokrasi itu terus bertumbuh di kawasan Asia Pasifik. Trennya positif. Bahkan ada indeks yang menunjukkan demokrasi tertinggi ada di Asia Pasifik, dan itu suatu tren yang positif.

Yang kedua, tujuan dari satu negara itu didirikan adalah untuk kesejahteraan rakyatnya. Demokrasi banyak dianggap sebagai satu sistem terbaik saat ini. Dikelola negara dengan partisipasi inklusif dari masyarakat, harus mampu menjawab juga aspek dari tujuan negara dibentuk, yaitu prosperity. Nah makanya kita ingin lihat tren demokrasi yang terus tumbuh membawa kemakmuran enggak buat rakyat?

Saat ini kan demokrasi sebagai satu sistem pemerintahan mendapat tantangan cukup besar. Bahkan, di negara-negara yang dulunya merupakan soko guru demokrasi pun mengalami tantangan. Balik lagi, tujuan negara itu mencapai kemakmuran tadi. Sekarang, demokrasi yang tadi mengalami tantangan itu, harus mampu menjawab bahwa demokrasi sesuai dengan tujuan suatu negara yaitu kemakmuran. Caranya bagaimana, dan bagaimana pula negara-negara demokrasi itu mencapai kemakmuran, nah itu yang akan kita share bersama. Sekaligus menjawab tantangan bahwa demokrasi itu sangat relevan bagi pencapaian tujuan satu negara.

Apakah BDF ini relevan untuk kondisi saat ini?

Kalau kita lihat studi dari Economist Inteligent Unit, studi World Economic Forum, dan terakhir World Bank, kesimpulannya ada korelasi kuat antara pertumbuhan ekonomi satu negara dengan kemakmuran ekonomi satu negara dengan tatanan demokrasi yang dianut negara itu. Ada korelasi positif. Nah itu ingin kita bahas bersama dan syukur-syukur ada sharing pengalaman dan best practices-nya seperti apa yang ingin kita sama-sama dengar.

Demokrasi juga seharusnya mampu menciptakan inovasi-inovasi baru. Karena dalam suatu demokrasi, berpikir itu tumbuh dan berkembang juga. Kreativitas muncul dalam suatu kebebasan berpikir. Inovasi tumbuh dan berkembang dari suatu kreativitas. Nah, demokrasi harus menjaga lingkungan itu untuk menciptakan demokrasi di bidang teknologi, terlebih kita masuk era digital, revolusi industri 4.0. Harusnya demokrasi bisa menjadi faktor pendorong untuk tumbuh kembang kreativitas tadi.

Jadi nanti akan ada dua panel diskusi dengan para pembicara, para menteri, akademisi dan pelaku industri. Ini baru pertama kita buat sekarang, karena kita tidak mau hanya dari pemerintah saja, tapi juga dari private sector dan akademisi. Sharing pengalaman atau pemikiran, sehingga hasilnya lebih komprehensif.

Apa saja panel yang akan ada nanti?

Panel yang akan ada nanti itu judulnya 'Making Democratic Institution and Inclusive Prosperity Sustainable'. Ini kan bagaimana kita melihat kelembagaan demokrasi itu inklusif untuk suatu kemakmuran yang berkesinambungan lah.

Dan di panel kedua, kita membahas mengenai 'Technology, Innovation and the Future of Prosperity'. In between, kita ada panel lain yang juga melihat bagaimana policy, meng-engaged society untuk mendukung kemakmuran berkesinambungan tadi. Ada tiga panel jadinya. Diharapkan panel ini menghasilkan suatu yang lebih komunikatif dibandingkan pidato. Panel lebih banyak, namun tanpa menghilangkan general debate untuk memberi kesempatan delegasi berbicara mengenai posisi negara masing-masing. 

Yang baru lagi, dulu kan civil society dan media dilaksanakan sebelum BDF, sekarang bersamaan. Sekarang ada tiga, paralel meeting, Bali Student Conference, dan Bali CSO and Media Forum. Ini untuk menunjukkan inklusifitas bahwa semua elemen itu bersama-sama membahas. Yang di akhir dari BDF, semua pemikiran dari pelajar, CSO dan media akan dikombinasikan menjadi chairman statement. Mudah-mudahan akan lebih inklusif dan semua porsinya masuk.

Apa yang akan diangkat Indonesia dalam BDF 2019. Apakah mengenai teknologi digital?

Sebetulnya tidak hanya teknologi digital. Tapi teknologi digital ini kan sesuai zamannya ya. Jadi kita address bahwa demokrasi pun harus mampu memberikan ruang lebih terhadap kebebasan ekspresi yang pada akhirnya menciptakan suatu kreativitas bagi pelaku industri. Mereka kan butuh environment yang kondusif.

Masih ada beberapa hal yang sama dengan tahun sebelumnya. Mungkin kita sebagai negara demokrasi tidak mau mengangkat diri sebagai champion of democracy, tapi lebih kepada sharing dengan negara lain mengenai nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Apalagi kita memiliki banyak sekali pengalaman mengenai demokrasi yang menunjang kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri.

Karena kalau dilihat dari tema-tema sebelumnya, apalagi yang tahun ke-10 mempertanyakan apakah demokrasi itu menghasilkan sesuatu? Di tema tahun ini kita ingin mengerucut, apakah demokrasi menghasilkan kemakmuran? Seperti itu. Jadi sebetulnya itu main point yang akan dibahas, yaitu demokrasi sebagai tatanan kemakmuran.

Indonesia kan tidak mau menggurui dalam hal demokrasi, dan kita juga sudah ada BDF Chapter. Hasilnya seperti apa? Bagaimana komentar dari tuan rumah BDF Chapter?

Keunggulan dari BDF adalah satu forum yang tadi dikatakan forum yang tidak mengajari orang lain, tidak jumawa terhadap kemajuan suatu negara di bidang demokrasi, tetapi forum yang membuat semua orang nyaman berbagi pengalaman, berbagi satu sama lain. Karena nyaman, konsep ini mulai dibawa ke kawasan lain, tahun lalu kita bawa ke Tunisia. Tahun ini, menjelang BDF ke-11, kita mengadakan Chapter Berlin.

Tentunya tema yang diangkat tetap sesuai dengan tema prosperity, namun dari tantangan yang spesifik di regional. Makanya di Eropa, di Berlin, kita mengambil secara spesifik mengenai demokrasi dan migrasi. Karena tantangannya adalah migrasi yang masuk ke Eropa. Nah forumnya yang sifatnya kolegial dan sebagainya, membuat disukai dan negara-negara yang mengambil inisiatif ini untuk kawasan masing-masing. Ini hal positif, di mana BDF yang tadinya fokus pada kawasan Asia Pasifik, berkembang ke wilayah Afrika dan Eropa juga. Mereka menyambut baik rencana BDF.

Kita lihat tantangan-tantangan di wilayah itu seperti apa, karena setiap wilayah pasti ada masalah lain yang dihadapi. Kalau Pasifik, mungkin terkait environment, climate change dan lain sebagainya. Kita tidak bisa memaksakan isu oleh kita sendiri, tapi duduk bersama dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Kesepakatan bersama dari BDF tahun ini apakah hanya chairman statement atau ada yang lain?

BDF kan memang forum yang tidak menghasilkan suatu kesepakatan yang sifatnya dinegosiasikan. Karena lagi-lagi, pendirian BDF mendorong pengembangan demokrasi di kawasan dan dunia secara umum, melalui pendekatan inklusif dan tidak mengajari. Kita tentunya, hasil akhir berupa chairman statement yang menggambarkan apa yang dibahas. 

Bukan berarti mengurangi arti, karena isu demokrasi ini cukup sensitif bagi negara-negara tertentu. Tetapi kalau tidak ada engagement mengenai demokrasi di negara-negara ini, tidak akan berkembang dengan baik. Dan tidak bisa dipaksakan. Karenanya forum ini bersifat kolegial dan memberikan rasa nyaman kepada negara untuk bicara apapun atas pandangannya terhadap demokrasi itu.

Diharapkan karena engagedment pada pihak ini, dapat memberikan sesuatu. Karena demokrasi sebenarnya tidak ada formula yang sama diberlakukan di semua negara. Demokrasi tumbuh dan berkembang di negara masing-masing. Semangatnya gitu.

Untuk tahun ini kan kembali diadakan Bali Student Conference, dan yang saya lihat pesertanya dipilih. Itu bagaimana prosesnya?

Kalau peserta dari negara lain, disaring, dijaring oleh kedutaan kita. Ada yang oleh kedutaan, ada juga yang diusulkan dari negaranya. Itu yang luar negeri. Ada sekitar 44 orang yang datang langsung dari negaranya.

Sementara kita ingin pemuda-pemudi kita juga banyak yang masuk dalam Bali Conference ini. Karena pesertanya ratusan, dan yang diakomodasi hanya 50, maka kita buat persyaratan. Mereka harus menulis pandangan mengenai demokrasi bagaimana, dari situ dinilai. Kita ingin forum ini aktif jadi tidak bisa pilih sembarang orang datang, namun harus berkontribusi. Kita lihat dari pemikiran yang dia tuangkan di tulisannya.

Ditambah juga mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Itu kita pilih. Yang dari Indonesia itu tulisannya mencapai 400 lebih, yang kita pilih hanya 50.

Berapa kepala negara atau menteri yang sudah melakukan konfirmasi kehadiran?

Sampai saat ini sudah ada satu kepala negara dan 10 menteri yang akan bergabung dalam Bali Democracy Forum ini. Untuk tingkat kepala negara, ada Presiden Nauru. Memang targetnya kita ingin menambah lagi. Namun sejauh ini sudah 91 negara dari 133 negara yang kita undang.

Awalnya, forum ini untuk kawasan Asia Pasifik, dan peserta dari Asia Pasifik tetap besar. Mudah-mudahan menteri yang datang bertambah. Kita mencari benchmark dari tahun sebelumnya, sebanyak 13 menteri tanpa kepala negara. Saat ini, 10 plus satu negara. Di tahun sebelumnya lagi 11 menteri.

Persiapan BDF sudah sampai mana?

Persiapan fisik terus berlangsung, mengenai siapa yang membuka, masih terus kita kelola. Tetapi apa pun skenarionya kita sudah siapkan. Mudah-mudahan suasananya kondusif, karena tahun lalu kita pindahkan lokasi BDF untuk pertama kalinya. Tahun ini semoga aman dan yang lebih penting animo dari negara-negara dari 10 tahun lalu tetap tinggi.


(FJR)