Filipina Ingin Berlakukan Hukuman Mati untuk Paedofil

Willy Haryono    •    Jumat, 23 Sep 2016 18:05 WIB
pemerkosaan
Filipina Ingin Berlakukan Hukuman Mati untuk Paedofil
Tersangka kasus pemerkosaan anak di bawah umur, Peter Scully (kanan), di Mindanao, Filipina, 16 juni 2015. (Foto: AFP/Getty)

Metrotvnews.com, Manila: Sejumlah jaksa di Filipina menyerukan diberlakukannya kembali hukuman mati untuk menghukum Peter Scully, pria asal Australia yang merupakan tersangka kasus pencabulan anak di bawah umur. 

Scully, 52, dituduh memperkosa anak di bawah hukum dan merekam aksinya tersebut dengan menggunakan kamera. Hasil rekaman itu kemudian dijual di internet. 

Dia telah diinvestigasi atas total 75 kasus, termasuk tuduhan memperkosa seorang bayi perempuan berusia 18 bulan. Scully mengaku tidak bersalah. 

"Jika saya bisa memilih, saya akan memilih hukuman mati bagi Scully. Saya ingin itu terjadi," kata kepala jaksa Jaime Umpa, seperti dilaporkan Fairfax Media, seperti dikutip Asian Correspondent, Jumat (23/9/2016). 

"Kami ingin mengirim pesan kepada orang-orang yang ingin datang ke Filipina. Menyiksa dan melecehkan anak-anak kami, maka kalian akan dijerat hukum dan dieksekusi," sambung dia.

Menurut laporan Sydney Morning Herald, dalam sebuah persidangan di Filipina pada Selasa kemarin, Scully dituduh membuat video berjudul "Daisy's Destruction," yang memperlihatkan pemerkosaan terhadap bayi perempuan. 

Polisi juga menuding Scully mengubur seorang bocah berumur sebelas tahun di bawah rumah yang disewanya. Sebelum mengubur, dia membuat video dirinya sedang memperkosa bocah itu dan mencekiknya hingga tewas. 

Dua korban lainnya juga disebut-sebut dipaksa menggali kuburan mereka sendiri dalam keadaan diperkosa Scully. 


Peter Scully. (Foto: AFP/Getty)

"Perilaku tersebut adalah perilaku paling parah yang pernah saya lihat," tutur Ruby Malanoh, salah satu dari jaksa yang menuntut Scully. 

"Saya menangis saat melihatnya. Sulit untuk memercayai apa yang telah saya lihat sendiri, bahwa ada orang yang tega melakukan hal semacam itu ke anak-anak," tambah dia. 

Umpa mengatakan jika hukuman mati tidak diberlakukan, maka jaksa hanya memiliki opsi menjerat hukuman penjara maksimal untuk kejahatan perdagangan manusia. Ditambah dengan hukuman 10 tahun penjara untuk masing-masing dari lima kasus pelecehan seksual, maka Scully terancam mendekam di balik jeruji besi hingga 100 tahun. 

Namun, berdasarkan hukum Filipina saat ini, Scully akan dibebaskan setelah dipenjara 30 tahun, dan kemudian dideportasi ke Australia untuk menjalani sisa hukumannya. 

Eksekusi mati dilarang di Filipina pada 2006 setelah adanya gelombang oposisi dari pihak gereja Katolik. Namun Presiden Rodrigo Duterte menyerukan agar penjahat yang melakukan kejahatan berat seperti pemerkosaan untuk dieksekusi.


(WIL)