Disandera, WNI Jadi Saksi Mata Pertempuran di Libya

Sonya Michaella    •    Senin, 02 Apr 2018 14:25 WIB
penyanderaanperlindungan wni
Disandera, WNI Jadi Saksi Mata Pertempuran di Libya
ABK WNI yang berhasil diselamatkan Ronny William bersama dengan Menlu Retno Marsudi (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Sebagai Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang disandera kelompok bersenjata di Benghazi, Ronny William mengaku mendengar secara langsung perang yang masih bergejolak di Libya.
 
(Baca: 6 ABK WNI Berhasil Dibebaskan dari Penyanderaan di Libya).
 
"Kami disandera di kapal ikan berukuran kecil yang sandar di pelabuhan yang sudah tidak beroperasi. Semua kapal di situ karam, kecuali kapal kami," ujar Ronny kepada awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin 2 April 2018.
 
Lokasi penyanderaan Ronny dan lima ABK lainnya ternyata tidak jauh dari pusat konflik di Benghazi. Bahkan, sempat ada bom nyasar ke laut dekat lokasi mereka.
 
"Saya lupa bulan apa. Yang pasti siang hari. Tiba-tiba ada suara kencang sekali. Ternyata itu bom nyasar yang jatuh ke laut dekat lokasi kami disandera," lanjut dia.
 
(Baca: Kronologi Pembebasan 6 WNI dari Penyanderaan di Benghazi).
 
Revolusi untuk menjatuhkan Presiden Muammar Khadafi pada 2011 silam dimulai dari Benghazi. Sejak saat itu, Benghazi menjadi pusat konflik Libya dan dikuasai kelompok bersenjata anti pemerintah.
 
Kelompok inilah yang menyandera Ronny dan lima kawannya ketika mereka sedang menangkap ikan sekitar 72 mil dari Benghazi. Kelompok ini juga yang berhasil mengusir ISIS keluar dari Benghazi pada 2015.
 
Pada 2012, Benghazi sempat diserang dan dikuasai oleh kelompok militan Anshar Al Syaria, selama dua tahun hingga 2014. Pertempuran di Benghazi masih terjadi hingga akhir 2017.
 
(Baca: Kesaksian WNI Susah Payah Cari Makan saat Disandera di Libya).
 
"Sampai akhir tahun 2017 itu kami masih melihat pertempuran di Benghazi. Pertempuran milisi Benghazi dengan ISIS," tukas dia.
 
Ronny membenarkan bahwa Benghazi kini seperti kota mati. Hanya ada reruntuhan gedung dan bangunan di mana-mana serta sejumlah pelabuhan tak terpakai dengan banyak kapal yang karam.


(FJR)