Pompa Air Macet usai Bocah Terakhir Diselamatkan dari Gua

Arpan Rahman    •    Rabu, 11 Jul 2018 13:50 WIB
thailand
Pompa Air Macet usai Bocah Terakhir Diselamatkan dari Gua
Tim penyelamat yang berhasil melakukan evakuasi tim sepakbola anak dari gua di Chiang Rai (Foto: AFP).

Tham Luang: Operasi penyelamatan untuk membebaskan korban terakhir dari 12 anak laki-laki dan pelatih sepak bola mereka dari dalam gua Thailand nyaris menjadi bencana. Pompa air yang menguras area macet hanya beberapa jam sesudah bocah terakhir dievakuasi.
 
Para penyelam dan pekerja penyelamat masih lebih dari 1,5 km di dalam goa membersihkan peralatan ketika pompa utama macet. Akibatnya permukaan air meningkat dengan cepat, tiga penyelam Australia yang terlibat dalam operasi itu mengatakan kepada Guardian pada Rabu 11 Juli.
 
Para penyelam, yang masuk ke 'ruang ketiga', sebuah dataran di dalam goa, mengatakan bahwa mereka mendengar teriakan dan melihat deru obor dari ruang goa lebih dalam di saat para pekerja bergegas mencapai tanah kering.
 
Semua orang, termasuk tiga angkatan laut Thailand terakhir dan petugas medis yang menghabiskan sebagian besar pekan lalu menjaga kewaspadaan beserta anak-anak yang terperangkap, keluar dari goa beberapa saat kemudian.
 
Anak-anak dari tim sepak bola 'Wild Boar' dibawa keluar dalam tiga operasi penyelamatan berani dimulai pada Minggu pagi. Sebuah tim elit dari 19 penyelam terlibat mengangkut anak-anak dan pelatih berusia 25 tahun sekitar 3,2 km dari lereng berlumpur di mana mereka berlindung menuju dunia luar.
 
Empat yang pertama muncul pada Minggu 8 Juli, kemudian empat berikutnya pada Senin dan kemudian lima terakhir sekitar Pukul 20:00 waktu setempat pada Selasa malam. Operasi ini mengharuskan anak-anak belajar bernapas memakai masker skuba dan untuk melintasi terowongan sempit terjal.
 
Selama misi terakhir, ketika tiga SEALS dan dokter terentang jadi rantai manusia penyelamat yang sudah terbentuk di dalam goa, setiap orang mulai bersorak dan bertepuk tangan. Para penyelamat membandingkannya dengan gelombang Meksiko asyik yang berlanjut sampai pintu masuk.
 
Perjalanan dari ruang ketiga ke pintu masuk goa memakan waktu sekitar empat hingga lima jam pada awalnya, tetapi berkurang menjadi kurang dari satu jam setelah sepekan kering dan dibersihkan dari jalur lumpur menggunakan sekop.
 
Ke-12 anak laki-laki, yang memakai tabung menyelam dan masing-masing ditambatkan ke penyelam dewasa, harus menenggelamkan diri mereka sendiri untuk sebagian besar perjalanan. Tetapi dibawa dengan tandu setiap kali mereka memasuki landasan tanah kering. Masing-masing meninggalkan goa di tandu-tandu itu masih mengenakan masker pernapasan mereka.
 
Sebagian besar pekan lalu dihabiskan buat membersihkan jalan sepanjang 1,5 km dari ruang ketiga menuju pintu masuk.
 
Para penyelam Australia, yang membawa 46 kg peralatan selam, termasuk di antara tim yang mengangkut radio, silinder udara, dan peralatan lain ke dalam ruang ketiga. Mereka tidak dapat pergi lebih jauh karena peralatan mereka terlalu besar: melewati ruang ketiga harus melewati lubang kurang dari satu meter lebarnya.
 
Penyelam spesialis goa dan bocah laki-laki menggunakan peralatan yang lebih kecil seperti aqualung dan tangki di sisi mereka, bukan di punggung mereka.
 
Penyelam Australia membandingkan sejumlah bagian perjalanan untuk bergerak seperti melalui cekungan-S di toilet. Mereka berkata, ada tiga timbunan utama sepanjang sekitar 10 hingga 20 meter.
 
Penyelam berada di bawah air selama 10 meter saat itu, lalu berjalan beberapa ratus meter sebelum menyelam lagi.


(FJR)