Indonesia Pernah Nasihati Mesir Sebelum Krisis Melanda

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 23 Nov 2017 18:35 WIB
politik mesir
Indonesia Pernah Nasihati Mesir Sebelum Krisis Melanda
Para pendukung Mohammad Morsi saat terjadi krisis di Mesir pada 2013 lalu (Foto: AFP).

Jakarta: Indonesia rupanya pernah menasihati Mesir sebelum negara tersebut dipimpin Mohamed Morsi. Kala itu, Mesir tengah dalam pergantian kepemimpinan dan menginginkan demokrasi seperti yang dialami Indonesia.
 
Adalah mantan Presiden B.J Habibie dan politikus Amien Rais hadir di tengah mahasiswa dan pejabat Negeri Piramida kala itu. Habibie menceritakan bagaimana perjalanan Indonesia dari keterpurukan Orde Baru.
 
Mantan Atase Pendidikan Indonesia di KBRI Kairo, Prof Dr Sangidu, M.Hum, mengatakan bahwa kala itu masyarakat Mesir menyampaikan keinginan mereka untuk memiliki kepemerintahan seperti Indonesia.
 
"Atas permintaan tersebut, mantan Presiden Habibie dan juga Pak Amien Rais membagi pengalaman Indonesia. Pak Habibie mengatakan, siapapun pemimpin Mesir mendatang harus bisa mengakomodir semua kekuatan yang ada di Mesir," ujarnya, dalam forum Kajian Stratejik: The Dynamics of Middle Eastern Politics, di Kampus Universitas Indonesia, Jakarta, Kamis, 23 November 2017.
 
Sementara itu, Sangidu menambahkan, Amien Rais dengan tegas mengatakan bahwa jika terjadi krisis, Mesir jangan meminjam uang di International Monetery Fund (IMF).
 
Sayangnya, nasihat dari Indonesia tidak didengar oleh pemimpin Negeri Piramida yang terpilih kala itu, Mohamed Morsi. Morsi terpilih menjadi presiden kelima Mesir pada 30 Juni 2012.
 
Morsi adalah salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat umum, ia telah berjanji bahwa Mesir di bawah kepemimpinannya akan bersifat inklusif, menegakkan tujuan revolusi setelah jatuhnya rezim Presiden Hosni Mubarak dan akan berbagi kekuasaan dengan partai-partai lain, pemilihannya pun didukung oleh orang-orang sekuler dan Kristen.
 
Namun, banyak komentar dan penilaian yang mengatakan bahwa Morsi tidak akan mampu mengumpulkan dukungan penuh, ia pun terlihat sebagai pemimpin yang tidak berkharismatik. Tetapi dukungan dari persaudaraan Ikhwanul Muslimin memobilisasi sumber daya dan pendukung-pendukung untuk Mursi sebagai pimpinan partai mereka, Partai Kebebasan dan Keadilan. 
 
Maka Morsi dengan janjinya untuk mengakhiri diskriminasi terhadap Mesir berdasarkan agama, suku atau gender memenangkan hati rakyat Mesir.
 
Sayangnya, dia tidak merangkul semua kekuatan yang ada di Mesir, karenanya pada 3 Juli 2013, Mesir jatuh ke tangan militer. Tak hanya itu, dia juga meminjam uang ke IMF untuk membantu Mesir lewati krisis.
 
Pada 2015, Morsi dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan terkait kasus kabur massal dari penjara pada 2011. Selain itu, dia juga divonis puluhan tahun penjara atas kasusnya yang lain.
 
Namun, pada 2016, tuntutannya tersebut dicabut dan diganti dengan hukuman 40 tahun penjara atas kasus membocorkan rahasia negara dan dokumen sensitif ke Qatar. Tak hanya itu, dia juga mendapat 20 tahun bui karena memerintahkan penangkapan tanpa proses hukum dan menyiksa para pengunjuk rasa yang bentrok dengan pendukung Ikhwanul Muslimin.
 
Pendukung Morsi mengatakan pengadilan atas mantan presiden itu merupakan upaya untuk mengesahkan kudeta militer, dengan didasarkan pada saksi mata yang tidak bisa diandalkan dan bukti-bukti yang tipis.



(FJR)