Mengenal 'Gudang Uang' ISIS Asal Malaysia

Fajar Nugraha    •    Selasa, 01 Aug 2017 12:13 WIB
malaysiaisis
Mengenal 'Gudang Uang' ISIS Asal Malaysia
Dr Mahmud Ahmad dikenal sebagai penyandang dana kelompok teroris ISIS (Foto: The Star).

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Militan asal Malaysia yang tergabung dengan kelompok Islamic State (ISIS), Dr Mahmud Ahmad, dikenal sebagai ahli senjata. Kini dia juga dikenal sebagai penyandang dana kelompok teroris itu.
 
Diketahui, sejak 2014, mantan dosen di Universiti Malaya itu menerima lebih dari 500 ribu ringgit Malaysia atau sekitar Rp1,5 miliar. Dana itu didapat dari sumbangan para militan ISIS dan simpatisannya.
 
Sumber intelijen menyebutkan bahwa dana itu dialirkan kepada Mahmud melalui kurir dan kiriman udara. Aliran dana tersebut sudah berlangsung sejak dirinya lari ke Filipina selatan, tiga tahun lalu.
 
"Kurir-kurir tersebut berasal dari Malaysia dan Indonesia. Mereka terbang ke Tawau, sebelum akhirnya masuk ke Mindanao dengan rute ilegal," ujar seorang sumber kepada The Star, Selasa 1 Agustus 2018.
 
"Di Mindanao kurir-kurir meninggalkan sebuah tas berisi uang di wilayah yang sudah ditentukan menjadi tempat penjemputan. Kemudian uang itu diambil oleh militan lain, yang mengirimkan uang tunai ke Dr Mahmud," imbuh sumber tersebut.
 
Instruksi lewat Telegram
 
Instruksi pengiriman uang ini dilakukan melalui aplikasi percakapan, Telegram. Aplikasi ini sudah dilarang di Indonesia.
 
"Modus operandi semacam itu didesain untuk mencegah penangkapan Dr Mahmud, oleh pihak keamanan," jelas sumber intelijen itu.
 
Wakil Kepala Divisi anti-Teror Kepolisian Bukit aman, Wakil Komisaris Datuk Ayob Khan memberikan konfirmasi bahwa Dr Mahmud menggunakan kurir ketika menerima bantuan dana. Bahkan pengiriman uang ke Filipina Selatan sudah berjalan sejak 2010.
 
"Kami juga melacak bahwa Dr Mahmud menggunakan wesel internasional untuk mendapatkan bantuan dana," tutur Ayob.
 
Ayob menambahkan bahwa divisinya sudah mengambil tindakan proaktif dengan menahan mereka yang bertanggung jawab memberikan alur dana, terhadap anggota ISIS di Suriah dan Filipina.
 
"Kami sudah menangkap 19 tersangka yang mengirim dana kepada teroris. 16 di antaranya sudah didakwa di pengadilan dan tiga lainnya ditahan atas undang-undang pencegahan terorisme (Pota)," tegas Ayob.
 
"Tiga di antara kurir ini mengirim lebih dari 200 ribu ringgit Malaysia (sekitar Rp622 juta) kepada Dr Mahmud," pungkas Ayob.
 
Kontak dengan WNI di Suriah
 
Ayob Khan mengatakan bahwa berdasarkan laporan intelijen menunjukkan bahwa Dr Mahmud melakukan kontak dengan militan asal Indonesia yang berada di Suriah. Kontak itu membahas pemindahan dana ke Filipina selatan.
 
"Kami mengetahui bahwa WNI yang menjadi kontak Dr Mahmud, melakukan kontak dengan militan lain di Indonesia untuk membuka rekening bank (di Indonesia)," tutur Ayob.
 
"Sejumlah uang akan dialirkan ke rekening baru ini dan pada saatnya nantinya akan memberikan biaya kepada militan lain, yang berniat bergabung dengan pertempuran di Filipina selatan," Ayob menambahkan.
 
Ancaman di Indonesia dan Malaysia
 
Melihat situasi Marawi saat ini, Direktur Institute of Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones menyebutkan ancaman teror akan meningkat di Indonesia dan Malaysia. Sebagai Wakil Komisaris anti-teror Polisi Malaysia, Ayob Khan memiliki komentarnya sendiri.
 
Menurutnya apa yang terjadi di Marawi menginspirasi pada militan di Asia Tenggara untuk meningkatkan rekrutmen dan bermaksud merencanakan dan membiayai serang baru.
 
"Apa yang terjadi di Marawi menandai pertama kalinya kehadiran ISIS di kawasan (Asia Tenggara) dan bisa memegang kendali untuk membentuk kekhalifahannya," tutur Ayob.
 
Mewaspadai ancaman ISIS, polisi Malaysia menurut Ayob sudah melakukan beberapa operasi untuk melawan sel terorisme.
 
"Bahkan operasi kami berujung pada kaburnya Dr Mahmud dan tokoh ISIS lainnya lari ke Filipina pada 2014. Dia (Dr Mahmud) lari karena mereka yang ditangkap memiliki kaitan dengan Arakan Daulah Islamiah yang dipimpin olehnya," kata Ayob.
 
Ayob menegaskan bahwa operasi melawan teror akan tetap berlanjut di saat polisi menerima laporan intelijen, yang bisa ditindaklanjuti. Untuk tahun ini saja, menurut Ayob, divisinya melakukan tiga operasi terpisah atas sel teror baru yang merekrut anggota dari Bangladesh dan Indonesia.



(FJR)