Kasus Mary Jane

Menlu Filipina: Duterte Hormati Pelaksanaan Hukum Indonesia

Sonya Michaella    •    Senin, 12 Sep 2016 17:34 WIB
eksekusi mati
Menlu Filipina: Duterte Hormati Pelaksanaan Hukum Indonesia
Menlu Filipina, Perfecto Yasay sanggah pemberitaan di Indonesia (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Manila: Menteri Luar Negeri Filipina, Perfecto Yasay mengklarifikasi pemberitaan yang beredar di Indonesia, bahwa Presiden Filipina Rodrigo Duterte mempersilahkan Mary Jane Veloso dieksekusi.

Seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri Filipina, Yasay mengatakan bahwa Duterte tidak pernah memberi 'lampu hijau' untuk pelaksanaan eksekusi mati Mary Jane.

Namun, lanjut pernyataan itu, Duterte memberitahu Presiden RI Joko Widodo bahwa ia menghormati proses peradilan dan akan menerima apapu keputusan akhir mereka di akhir kasus Mary Jane nanti.

Pernyataan resmi ini pun menyanggah pemberitaan dari Jakarta Post di mana ditulis bahwa Duterte memberikan lampu hijau untuk eksekusi Mary Jane.

Sementara, Yasay menekankan bahwa pelaksanaan eksekusi mati Mary Jane telah ditangguhkan.


Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan Presiden Jokowi dalam pertemuan di Istana Merdeka Jumat 9 September/ANT

Mary Jane ditangkap di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta karena terbukti membawa heroin pada April 2010. Mary Jane dijatuhi vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Sleman sesuai Pasal 114 Ayat 2 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sayangnya, Mary batal dieksekusi mati karena masih harus menjalani proses hukum di Filipina. Jelang eksekusi mati jilid II, Filipina menyatakan Mary merupakan korban human traficking. Seorang perempuan yang mengaku perekrut Mary, Maria Kristina Sergio menyerahkan diri ke kepolisian Filipina.

Mary Jane disebut harus memberi kesaksian dalam kasus itu. Indonesia akhirnya memutuskan menunda eksekusi mati terhadap Mary pada April 2015.

Kepada Presiden Jokowi, Duterte bahkan telah menyampaikan kesediaan pemerintah Filipina apabila Indonesia harus mengesekusi mati Mary.

"Presiden Duterte saat itu menyampaikan silahkan kalau memang mau dieksekusi," kata Jokowi di Serang, Banten, Senin (12/9/2016).

Jokowi mengatakan, saat berdiskusi dengan Duterte ia menceritakan kasus narkotika yang melibatkan perempuan 31 tahun itu. Jokowi menjelaskan mengapa sampai Mary harus menerima hukuman berat.


(FJR)