Duterte Dituduh Pernah Perintahkan Pembunuhan Lawan Politik

Fajar Nugraha    •    Kamis, 15 Sep 2016 16:57 WIB
politik filipina
Duterte Dituduh Pernah Perintahkan Pembunuhan Lawan Politik
Duterte Dituduh Pernah Perintahkan Pembunuhan Lawan Politik (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Manila: Sosok Presiden Filipina Rodrigo Roa Durterte sepertinya tidak pernah lepas dari kontroversi. Kali ini muncul pengakuan bahwa Duterte memerintahkan pemnunuhan atas rival politiknya.
 
Pengakuan ini diutarakan oleh mantan anggota pasukan kematian yang dibentuk Duterte saat masih menjabat sebagai Wali Kota Davao. Tim itu dikenal dengan sebutan Davao Death Squad (DDS).
 
Saksi bernama Edgar Matobato, memberikan pengakuannya di hadapan rapat dengar pendapat dengan senat. Menurut Matobato, bukan hanya memerintahkan pembunuhan terhadap rival politik, tetapi Duterte juga memerintahkan pengeboman terhadap masjid dan pembunuhan warga Muslim.
 
Matobato diajukan sebagai saksi oleh Senator Leila de Lima. Selama ini De Lima dikenal sebagai pengkritik keras dari Duterte.
 
Berdasarkan media Filipina, Inquirer, Matobato mengaku dirinya adalah anggota Cafgu atau disebut sebagai Citizen Armed Force Geographical Unit. Matobato tetap menjadi anggota Cafgu hingga 1988 saat Duterte menjadi Wali Kota Davao dan merekrutnya dalam kelompok berisi tujuh orang dan disebut 'Lambada Boys'.
 
'Lambada Boys' menjadi cikal bakal dari DDS. DDS dianggap sebagai bertanggungjawab atas pembunuhan di luar hukum yang terjadi di Davao.
 
Dalam keterangannya Matobato mengklaim bahwa DDS menculik dan  kemudian membunuh empat pendukung dari mantan Ketua DPR Filipina Prospero Nograles. Pembunuhan itu pun diperintahkan dengan surat tertulis.
 
Nograles dikenal sebagai saingan terdekat dari Duterte. Dia pernah mencalonkan diri sebagai wali kota dan kalah dari Duterte pada 1992 dan 1998.
 
"Duterte (dan Nograles) adalah saingan, jadi dia memerintahkan penculikan orang-orang Nograles," sebut Matobato dalam rapat dengar pendapat, seperti  dilaporkan Inquirer, yang dilaporkan AFP, Kamis (15/9/2016).
 
Ketika ditanya siapa wali kota yang memerintahkan kejahatan itu, Matobato menjawab: "Presiden kita saat ini".


Matobato saat memberikan kesaksian (Foto: AFP)

 
Kemudian Matobato menambahkan, keempat orang pendukung Nograles itu kemudian dibawa ke Kota Samal. Di kota ini keempatnya dicekik dan dibunuh secara brutal.
 
"Kami buka perutnya dan membawanya ke perahu. Ketika berada di tengah laut, kami melemparnya dan ditambah dengan batu. Tiga batu untuk tiap satu orang," pungkasnya.
 
Anggota DDS menurut pengakuan Matobato, bekerja seperti hantu di Davao. Mereka bekerja di bawah pemerintah kota Davao, di bagian 'kejahatan mengerikan'.
 
Selain pendukung Nograles, Matobato mengaku bahwa Duterte juga memerintahkan pembunuhan terhadap De Lima, tetapi gagal. Perintah pembunuhan langsung itu dikeluarkan ketika De Lima hendak menyelidiki pembunuhan di luar hukum di Davao pada 2009.
 
Perintah pembunuhan terhadap Muslim
 
Jauh sebelum pembunuhan rival Duterte, Matobato mengaku pada 1993,-Presiden yang naik ke tampuk kekuasaan Juli itu- juga memerintahkan pengeboman terhadap sebuah masjid dan pembunuhan terhadap warga Muslim.
 
"DDS, saat itu menambah anggotanya dari tujuh orang menjadi lebih banyak lagi. Isinya pun berasal dari kalangan pemberontak dan anggota polisi," tutur Matobato.
 
Pada pengeboman Desember 1993 itu, granat dilemparkan melalui jendela masjid di Bangkirohan di Davao. Ledakan menyebabkan lima orang terluka.
 
Perintah diyakini dikeluarkan sebagai pembalasan atas pengeboman di Gereja Katedral Davao. Pengeboman di gereja itu menyebabkan enam orang tewas.
 
"Duterte kemudian mendesak dilakukan pembunuhan terhadap tersangka Muslim. Salah satu yang dibunuh adalah Salik Makdum, yang diculik dari Samal," ungkap Matobato.
 
Kontroversi semacam ini seperti memenuhi Duterte. Saat ini dirinya dihadapkan pada kecaman internasional dalam caranya mengatasi para pengedar narkoba, yang banyak dibunuh di luar hukum dan dilaporkan korban tewas sudah mencapai lebih dari 2.000 jiwa.

(FJR)

Debat Perdana Capres AS Pecahkan Rekor Jumlah Penonton
Debat Capres AS 2016

Debat Perdana Capres AS Pecahkan Rekor Jumlah Penonton

1 hour Ago

Jumlah tersebut mengalahkan rekor debat capres Ronald Reagan dengan Jimmy Carter pada 1980. 

BERITA LAINNYA