OKI Didesak Segera Bantu Rohingya di Myanmar

Sonya Michaella    •    Kamis, 24 Nov 2016 17:35 WIB
konflik myanmar
OKI Didesak Segera Bantu Rohingya di Myanmar
HIMA PERSIS berunjuk rasa di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, 24 November 2016. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Terkait kekerasan dan pembantaian etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, Himpunan Mahasiwa Persatuan Islam (HIMA PERSIS) menuntut dunia internasional, khususnya PBB dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengakhiri tragedi ini.

"OKI itu kumpulan negara Muslim yang ada di dunia. Diharapkan OKI mengajak negara mayoritas Muslim juga untuk mengakhiri pembantaian ini," ucap Bendahara Umum HIMA PERSIS, Ceceng Kholilulloh ketika ditemui di depan Kedutaan Besar Myanmar, Jakarta, Kamis (24/11/2016).

HIMA PERSIS melakukan aksi unjuk rasa di depan Kedubes Myanmar dengan tujuan memrotes kekerasan dan pembantaian terhadap etnis Rohingya yang dilakukan militer Myanmar beberapa pekan terakhir.

"OKI bisa menggerakkan negara-negara MusliIm untuk menekan Myanmar agar tindakan ini segera diakhiri, sehingga Rohingya tak ditindas," ungkapnya.

Menurut penuturan Ceceng, OKI mempunyai kewenangan dan kapasitas untuk menggerakkan negara-negara Muslim.


Bendahara Umum HIMA PERSIS, Ceceng Kholilulloh. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

HIMA PERSIS menganggap bahwa dunia internasional belum bergerak terhadap kekerasan yang terjadi di Rakhine, Myanmar, termasuk PBB dan ASEAN.

HIMA PERSIS juga menuntut Indonesia agar membantu menyelesaikan permasalahan Muslim Rohingya ini. Jika masih terjadi pembantaian, mereka menuntut agar Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar.

Puluhan ribu pengungsi dari Myanmar diketahui lari ke perbatasan Bangladesh akibat konflik di Rakhine. Namun, setibanya di perbatasan, mereka malah ditembaki oleh militer Myanmar.

Tak hanya itu, pemerintah Bangladesh pun telah menyatakan mereka akan dikembalikan ke Myanmar dan Bangladesh akan menjaga ketat daerah perbatasan.

Etnis Rohingya adalah etnis minoritas yang ada di Myanmar. Mereka dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Bertahun-tahun tinggal di Myanmar, mereka tak kunjung diberi kewarganegaraan oleh pemerintah setempat.


(WIL)