Bertemu PM Jepang, Jokowi Bahas Proyek Kereta Cepat Lintas Jawa

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 13 Nov 2017 17:03 WIB
indonesia-jepang
Bertemu PM Jepang, Jokowi Bahas Proyek Kereta Cepat Lintas Jawa
Presiden RI Joko Widodo dan PM Jepang Shinzo Abe saat bertemu di sela-sela KTT ASEAN (Foto: Biro Pers Istana).

Jakarta: Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Manila, Filipina. 

Dalam pertemuan tersebut, salah satu isu yang dibahas mengenai kelanjutan proyek kerja sama kedua negara, salah satunya kereta cepat lintas Jawa.

PM Abe mengemukakan keinginannya untuk semakin mempererat kerja sama dalam pembangunan proyek infrastruktur tersebut. Hal serupa juga diungkapkan oleh Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kozo Honsei.

Ditemui di Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Honsei menjelaskan beberapa pekan lalu sudah ada pertemuan antara beberapa pihak terkait.

"Untuk proyek peningkatan kereta lintas Jawa, beberapa pekan lalu pihak BPPT dan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan juga JICA experts sudah melakukan perundingan," ucapnya, di Jakarta, Senin, 13 November 2017.


Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kozo Honsei (Foto: Marcheilla Ariesta/Metrotvnews.com).


Menurutnya, semua masih ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu oleh masing-masing pihak. Sayangnya, Honsei tak menjelaskan detil persoalan yang harus diselesaikan tersebut.

Sementara itu, pertengahan tahun ini Presiden Jokowi disebut akan memprioritaskan Jepang menggarap kereta cepat Jakarta-Surabaya, yang saat ini kajiannya tengah dilakukan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Hal tersebut diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Saat itu, kajian kereta cepat Jakarta-Surabaya masih dikerjakan JICA dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Rencananya, kajian ini akan selesai pada bulan Agustus mendatang.

Namun, ada kemungkinan hasil kajian ikut berubah setelah Jepang mempertimbangkan desain jalur rel yang baru. Selain itu, Jepang juga menakar penggunaan tenaga diesel atau listrik demi menghidupkan kereta tersebut.



(FJR)