Keberanian WNI Laporkan Pelecehan oleh Majikannya di Singapura

Fajar Nugraha    •    Rabu, 06 Jun 2018 15:03 WIB
tkiperlindungan wni
Keberanian WNI Laporkan Pelecehan oleh Majikannya di Singapura
Francis Lim Boon Liang mengaku bersalah melecehkan warga negara Indonesia (Foto: The Straits Times).

Singapura: Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART) di Singapura, melaporkan pelecehan yang dilakukan majikannya.
 
Dilecehkan sebanyak empat kali pada akhir 2016, WNI itu melarikan diri dari rumah majikannya dan melapor kepada Kementerian Tenaga Kerja Singapura di Havelock Road. Namun ketika dia tiba di kantor itu, operasi pemerintah sudah usai dan perempuan berusia 24 tahun itu terpaksa menginap di sebuah halte bus.
 
Baru keesokan harinya dia kembali ke kantor pemerintah itu dan merampungkan laporannya.
 
Sebagai hasil pada 5 Juni, Francis Lim Boon Liang, seorang pria berprofesi sebagai manajer penjualan mengaku bersalah atas tindakannya di pengadilan setempat. Pria berusia 49 tahun itu bersalah atas dua laporan pelecehan dari WNI yang dimaksud.
 
Sementara dua dakwaan pelecehan lainnya akan ditinjau saat pembacaan vonis yang diperkirakan berlangsung pada 13 Juli. Pengadilan mendapatkan informasi bahwa WNI tiba di Singapura pada September 2016 dan dua kemudian Lim memperkerjakannya pada November 2016.
 
Lim sudah mengincar WNI itu sejak dia pertama kali bekerja.
 
"Korban tidak pernah terlibat hubungan romantis dengan tertuduh. Hubungan mereka murni antara karyawan dengan atasan," ujar Jaksa Penuntut Umum Nicholas Lai, seperti dikutip The Straits Times, Selasa 4 Juni 2018.
 
"Tertuduh dan anggota keluarga lainnya tidak memiliki keluhan atas kinerja korban," lanjutnya.
 
Pelecehan terhadap korban terjadi di saat korban berada di dapur. Kepada Hakim Marvin Bay, Jaksa Lai menyebutkan bahwa di saat itulah Lim meminta ciuman dari korban. Pelaku yang memiliki dua orang anak ini melakukan tindakannya di saat putranya berada di ruangan keluarga dan putrinya di dalam kamar tidur.
 
Ketika korban menolak mencium, pelaku pun melakukan pelecehan kepadanya.
 
"Korban merasa marah, tak berdaya dan malu. Namun dia tidak melaporkan tindakan pelecehan itu kepada polisi karena masih menghormati majikannya dan tidak ingin menimbulkan masalah antara Lim dengan istrinya," tutur Jaksa Lai.
 
Ternyata sikap diam korban dimanfaatkan oleh Lim. Pria itu kemudian melecehkan korban dua kali lagi pada November.
 
Pada 3 Desember 2016, korban berada di flat milik ibu dari Lim ketika dilecehkan kembali untuk keempat kalinya.
 
Di malam itu sekitar pukul 10.00 malam dia melarikan diri saat ibu Lim tertidur.
 
Meskipun mengaku bersalah Lim saat ini masih belum dipenjara karena pengacaranya memastikan uang jaminan sebesar 5.000 dolar Singapura atau sekitar Rp51,9 juta. Untuk setiap dakwaan pelecehan, Lim diancam hukuman dua tahun penjara atau denda dan hukuman cambuk.


(FJR)