Duterte Wacanakan Status Darurat Militer untuk Seantero Filipina

Willy Haryono    •    Jumat, 15 Sep 2017 13:05 WIB
filipinaterorisme di filipina
Duterte Wacanakan Status Darurat Militer untuk Seantero Filipina
Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi se-ASEAN di Manila, 6 September 2017. (Foto: MARK R. CRISTINO)

Metrotvnews.com, Manila: Presiden Filipina Rodrigo Duterte mewacanakan status darurat militer berskala nasional pekan mendatang jika rencana unjuk rasa masif kubu komunis dan grup sayap kiri lainnya berujung anarkis atau mengganggu stabilitas negeri.

Pernyataan disampaikan Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana kepada awak media, Jumat 15 September 2017. 

"Dia bilang, jika sayap kiri mencoba menggelar protes masif, melakukan pembakaran di sejumlah ruas jalan dan mengganggu stabilitas negara, maka saya akan (mendeklarasikan) status darurat militer," ujar Lorenzana mengutip perkataan Duterte, seperti dilansir AFP

Namun Lorenzana menekankan, kemungkinan penerapan status darurat militer berskala nasional relatif minim. Itu dikarenakan pemerintah menilai unjuk rasa yang dijadwalkan Kamis pekan depan tidak akan sebesar yang digembor-gemborkan. 

"Namun tentu saja presiden khawatir karena bisa menjadi tak terkendali. Jadi dia bilang, 'saya mungkin mendeklarasikan status darurat militer,'" ungkap Lorenzana. 

Sebuah grup koalisi bernama "Gerakan Melawan Tirani" telah mengumumkan rencana unjuk rasa masif pada 21 September mendatang. Tanggal itu merupakan peringatan 45 tahun penerapan aturan junta militer oleh diktator Ferdinand Marcos. 

Panitia acara menyebut, unjuk rasa akan digelar di sebuah taman di Manila. Tujuan dari demonstrasi adalah menyuarakan protes terhadap perang melawan narkotika ala Duterte yang telah menewaskan ribuan orang. 



Koalisi juga akan mengecam dukungan Duterte terhadap Marcos, diktator yang digulingkan dalam revolusi "Kekuatan Rakyat" pada 1986. Marcos meninggal dunia di Ameika Serikat dalam pengasingan tiga tahun setelahnya. 

Duterte memenangkan pemilihan umum presiden tahun lalu dengan janji memberantas kejahatan terkait narkoba. 

Kepolisian Filipina mencatat lebih dari 3.800 orang telah tewas dalam operasi anti-narkoba sejak Duterte menjabat 15 bulan lalu. Sementara ribuan lainnya tewas dalam situasi yang tidak disebutkan.

Status darurat militer telah diterapkan Duterte di sebagian wilayah di Filipina Selatan pada Mei lalu, setelah grup militan terafiliasi Islamic Stat (ISIS), menguasai kota Marawi.

Perang antar pasukan Filipina melawan militan di Marawi dan sekitarnya telah menewaskan lebih dari 800 orang.


(WIL)