Bangladesh akan Bangun 14 Ribu Tenda untuk Rohingya

Willy Haryono    •    Minggu, 17 Sep 2017 10:29 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Bangladesh akan Bangun 14 Ribu Tenda untuk Rohingya
Pengungsi Rohingya di kamp Kutupalong, Bangladesh. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Cox's Bazar: Bangladesh akan membangun 14 ribu tenda baru untuk menampung ratusan ribu pengungsi asal Rakhine -- sebagian besar dari mereka etnis Rohingya -- yang melarikan diri dari operasi militer pemerintah Myanmar. 

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir 400 ribu Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak kekerasan terbaru di Rakhine meletus pada 25 Agustus. 

Kekerasan dipicu grup militan ARSA yang menyerang sejumlah pos polisi di perbatasan Myanmar. Militer Myanmar meresponsnya dengan operasi perburuan masif yang berimbas buruk pada warga sipil. 

Otoritas Bangladesh berencana mendirikan sebuah pengungsian masif di lahan seluas 800 hektare di dekat kamp Kutupalong yang sudah dipenuhi Rohingya. 

"Pemerintah memutuskan membangun 14 ribu tenda untuk sekitar 400 ribu Rohingya," ujar Kepala Manajemen Bencana Bangladesh Shah Kamal kepada AFP, Sabtu 16 September 2017. 

"Kami diminta membangun semua ini dalam 10 hari ke depan. Satu tenda akan berisi enam keluarga pengungsi," lanjut dia, yang menjanjikan kamp terbaru dilengkapi sanitasi memadai dan fasilitas medis. 

Kamal menyebut pihaknya juga akan menerima bantuan dari sejumlah agensi PBB. Sementara dinas sosial Bangladesh akan merawat anak-anak Rohingya yang kehilangan orangtua mereka di Rakhine. 

Seorang pakar hak asasi manusia mengkritik koordinasi pemerintah Bangladesh dengan agensi PBB di lapangan. Menurutnya, kekacauan hampir selalu terjadi saat truk-truk bantuan datang ke kamp pengungsi. Koresponden AFP pernah melihat kekacauan semacam itu. 

"Tidak ada usaha untuk menghadirkan kedisiplinan dan ketertiban. Kurang ada koordinasi antar pemerintah dengan PBB," tutur Nur Khan Liton. 

"Masih banyak pengungsi yang tinggal di pinggir jalan. Ada beberapa yang bisa mendirikan tenda, tapi ada juga yang tidur tanpa pelindung apapun," sambung dia. 

Liton mengkhawatirkan akan adanya darurat medis setelah seorang anak Rohingya meninggal dunia akibat diare. "Otoritas harus bertindak cepat sebelum terjadi wabah," sebut Liton.

 


(WIL)