Perang Berkecamuk, Dinding Beton Kabul Diruntuhkan

Arpan Rahman    •    Kamis, 27 Jul 2017 12:31 WIB
afghanistan
Perang Berkecamuk, Dinding Beton Kabul Diruntuhkan
Tembok yang berada di Kabul (Foto: The New York Times).

Metrotvnews.com, Kabul: Ledakan menembus jajaran dinding kota Kabul laksana benteng koyak, upaya penggusuran intuitif oleh para pejabat setempat. Mereka berpendapat tindakan tersebut akan memberi dorongan pada penduduk yang sudah lelah berperang di ibu kota Afganistan.
 
Pemerintah di awal Juli mulai menyingkirkan labirin penghalang beton yang bertumbuh di seluruh Kabul selama 16 tahun sejak Amerika Serikat (AS) menyerang Afghanistan pada puncak kekuasaan Taliban.
 
Upaya menggusur tembok itu tidak masuk akal bagi beberapa pihak, lantaran terjadi setelah serangan di Kabul meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ibu kota menjadi salah satu tempat paling mematikan di negara ini bagi warga sipil.
 
Tapi justru warga sipil yang mendesak keruntuhan tersebut, kata Najibullah Alokazy, kepala proyek. "Masalah ini diangkat oleh penduduk, bagi mereka kota ini terlihat seperti kota yang sedang berperang," katanya.
 
"Ini akan membantu mengurai lalu lintas dan akan memiliki efek nyata pada pandangan kota," lanjutnya disitir Sky News, Kamis 27 Juli 2017.
 
Labirin barikade beton -- terbentuk seperti 'T' berbasis lebar untuk memberi perlindungan dari ledakan bom -- mengamankan penduduk kota yang paling elit, dari pejabat pemerintah hingga staf kedutaan asing.
 
Hanya di salah satu dari 22 distrik yang membentuk kota Kabul, terdapat lebih dari 3.000 lokasi ledakan, menurut Alokazay. Sementara kompleks yang menampung misi keamanan pimpinan NATO di Afghanistan melebihi 8.000 lokasi.
 
Namun pembangunan struktur telah diatur secara buruk. Banyak penduduk Kabul yang paling penting, termasuk mantan presiden dan para mantan panglima perang, mendirikan perisai beton yang merentang jauh hingga ke jalan.
 
"Kalau seseorang menjadi anggota parlemen, atau pegawai rendahan pemerintah, mereka semua memiliki dinding bentuk T (T-Walls) buat melindungi rumah mereka," Mustafa Sharify, kepala Beeroj Logistics Services, sebuah perusahaan yang meledakkan dinding.
 
Warga mengatakan tembok -- yang menghalangi pandangan dari jalur jalan satu arah dan banyak tempat berteduh - tidak membuat mereka merasa aman. Sebenarnya, dinding itu serupa ancaman.
 
"Bukan membantu keamanan di jalanan, hanya melindungi rumah mereka," kata penduduk Kabul Yama Rayeen, menunjuk ke salah satu penghalang beton, yang tingginya berkisar antara tiga sampai tujuh meter.
 
"Jika Anda memblokir jalan, tercipta banyak masalah: semakin memicu kemacetan lalu lintas, Anda makin menjebak orang bila terjadi ledakan," tuturnya.
 
Kemacetan lalu lintas semacam itu menghadirkan peluang bagi Taliban dan kelompok militan lainnya, yang sudah menargetkan jalan-jalan Kabul dengan penghancuran secara teratur.
 
Pada akhir Mei, sebuah bom truk meledak saat jam sibuk pagi hari dalam kawasan diplomatik kota tersebut. Menewaskan lebih dari 150 orang dan melukai ratusan lainnya, serangan itu paling mematikan di Afganistan sejak 2001.
 
Sementara pada Senin, bom lain meletus dalam komuter pagi, menewaskan sedikitnya 26 orang saat melanda sebuah bus yang penuh dengan pegawai pemerintah dalam perjalanan mereka untuk bekerja.
 
Menyingkirkan kandang
 
Pemerintah berencana untuk meruntuhkan tembok yang telah didirikan oleh warga -- banyak yang tidak memiliki izin. Namun kedutaan dan gedung-gedung pemerintah di luar itu, target bernilai tinggi di mata pemberontakan Taliban, akan tetap menjulang.
 
Sembilan ratus dinding sejauh ini telah dirobohkan, dan para pejabat mengatakan prosesnya berjalan lancar. Setiap bagian dinding memiliki berat lebih dari satu ton dan barisan traktor, di bawah pengamanan polisi, telah dikerahkan di seluruh kota buat mengangkat dinding.
 
"Kami sangat senang bisa menyingkirkan kandang ini. Kami dilahirkan bebas, kami tidak menerima pembatasan," kata penjaga toko Ghulam Daoud Ghamugusar. Saat itu, dia melihat sebuah dinding diledakkan lalu dibongkar, secangkir teh manis di tangannya.
 
Namun sementara pemerintah meruntuhkan tembok, situasi keamanan yang memburuk telah mendorong NATO memperkuat pertahanannya sendiri, menggandakan deretan penghalang yang mengelilingi markas Kabul.
 
'Zona hijau' -- daerah terlarang yang dibatasi kawat berduri, orang-orang Afghanistan biasa dilarang masuk - juga berkembang saat Taliban bangkit kembali kemudian berulang kali menunjukkan kemampuannya menyerang di dalam ibu kota.
 
Sejak Januari lebih dari 1.500 warga sipil telah tewas di seluruh Afganistan dalam serangan, hampir satu dari lima terbunuh di Kabul, menurut data yang baru-baru ini dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
"Itu adalah kota yang indah," kata pensiunan guru Ahmad Jan, dengan nada prihatin, bernostalgia beberapa hari sebelum ledakan tembok dan pos-pos pemeriksaan.
 
"Anda bisa pergi dari Lapangan Ariana ke istana presiden tanpa ada yang menghentikan Anda. Saya tidak dapat membayangkan bahwa kita akan kembali ke masa itu," pungkasnya.



(FJR)