Menlu Terus Upayakan Komunikasi dengan WNI yang Kabur dari Suriah

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 15 Jul 2017 15:12 WIB
isiswni gabung isis
Menlu Terus Upayakan Komunikasi dengan WNI yang Kabur dari Suriah
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno L. P. Marsudi, resmikan Pelayanan Kekonsuleran secara online di KBRI London, Kamis 13 Juli 2017. (Foto: Dok.Kemenlu RI).


Metrotvnews.com, London: Sekitar belasan warga Indonesia saat ini berada di Irak, setelah kabur dari kekuasaan ISIS di Raqqa, Suriah. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya terus mencoba melakukan komunikasi.
 
 
Menlu Retno mengatakan pihaknya sejauh ini belum bisa melakukan komunikasi langsung dengan 12 WNI yang pernah selama beberapa bulan berada di kekuasaan ISIS di Raqqa. Dengan demikian upaya bantuan atau pemulangan terhadap mereka belum bisa dimulai.
 
"Sejak kami terima informasi, kami telah mencoba berkomunikasi dengan mereka melalui beberapa pihak. Kami ingin mengetahui kondisi mereka, seperti apa keadaannya," kata Menlu Retno, kepada BBC Indonesia, Jumat 14 Juli 2017.
 
"Memang tidak mudah, komunikasi (dengan ke-12 WNI) tidak mudah karena faktor situasi dan lokasi. Langkah kami selanjutnya akan sangat tergantung dengan hasil komunikasi yang kami lakukan dengan mereka," imbuh Menlu Retno.
 
Keberadaan warga Indonesia di Raqqa diketahui pertengahan Juni ketika mereka berniat meninggalkan kota yang oleh kelompok ISIS dikatakan sebagai 'ibu kota kekhalifahan' tersebut.
 
Saat ini 12 WNI -yang terdiri dari sembilan perempuan dan tiga anak- berada di kamp pengungungi Ain Issa, yang terletak sekitar 50 kilometer di utara Raqqa. Salah seorang di antaranya mengatakan "ada enam laki-laki lain dari Indonesia yang berada dalam tahanan."
 
Menlu Retno mengatakan pihaknya akan terus berusaha membangun komunikasi.  "Yang jelas kami sudah memiliki prosedur bagaimana membantu warga negara Indonesia. Tentu saja penanganannya akan berbeda dari satu kasus ke kasus lain," pungkas mantan Dubes RI untuk Belanda itu.

Menyesal ikut ISIS

Leefa pergi dari Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ISIS di Raqqa. Baginya sesaat sebelum pergi, dia membayangkan tempat tujuannya bisa menunjukkan surga atas keyakinannya selama ini.
 
Namun sekarang, di saat ISIS mati-matian mempertahankan kekuasaannya, perempuan berusia 38 tahun itu bersama 15 WNI lainnya keluar dari Raqqa. Mereka pun bertahan di tempat penampungan Ain Issa, sekitar 50 kilometer sebelah utara Raqqa.
 
Leefa bersama rekan-rekannya yang lain meninggalkan Indonesia dan pergi ke Suriah, untuk menjadi Muslim sesungguhnya. Mereka tertarik dengan propaganda yang dilakukan oleh ISIS baik di video ataupun media lainnya.
 
Serupa dengan Leefa, Nur pun merasakan hal yang sama. Nur datang ke Suriah dengan harapan bisa mendapat pekerjaan. 
 
Ketika kami masuk ke ISIS, masuk ke wilayah negaranya semuanya berbeda dari yang diucapkan di internet. Kami diiming-imingi pekerjaan dengan bayaran besar," ucap Nur, kepada AFP.
 
Tetapi ketika tiba di Raqqa, seluruh pria yang datang bersama Nur diwajibkan untuk berjuang bersama pasukan ISIS. Bahkan keluarganya pun dijebloskan ke penjara. Tidak hanya itu, Nur juga diburu oleh anggota ISIS lain untuk dinikahi.



(FJR)