RI Bantu Pulihkan Rakhine di Hulu dan Hilir Permasalahan

Sonya Michaella    •    Minggu, 03 Sep 2017 16:23 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
RI Bantu Pulihkan Rakhine di Hulu dan Hilir Permasalahan
Menlu Retno Marsudi (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia dengan cepat merespons krisis kemanusiaan yang saat ini kembali pecah di Rakhine State, Myanmar. Tak hanya respons politik, melainkan juga bantuan-bantuan yang digelontorkan Indonesia sejak pertama kali krisis tersebut pecah pada Oktober tahun lalu.

"Kita ini melihat suatu masalah tidak bisa hanya dari luarnya saja, tetapi dari akar masalah, di hulu dan juga dampak masalah tersebut, misalnya pengungsi yang kabur ke Bangladesh," kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, ketika ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Minggu 3 September 2017.

"Pendekatan kita ini adalah pendekatan yang konkret. Kita memilih untuk melakukan sesuatu untuk membantu memulihkan krisis kemanusiaan itu," lanjut dia.

Ia juga menambahkan, Indonesia adalah negara pertama yang merespons dengan cepat bentrokan kedua yang pecah di Rakhine State, 25 Agustus kemarin. Gerak cepat Indonesia juga sama dengan saat bentrokan pecah tahun lalu.

"Kita ini mengeluarkan pernyataan dan bergerak, melakukan sesuatu dengan benar-benar menolong orang. Ini menyangkut kemanusiaan, manusia. Makanya kita fokus menangani krisis ini di hulu dan di hilir," tegas Menlu Retno.

Menlu Retno juga menuturkan bahwa ia menyesalkan bentrokan yang kembali pecah di Rakhine State. Setidaknya, korban tewas pun sudah mencapai 400 jiwa.

Tanggung jawab memang ada di Pemerintah Myanmar. Namun, Indonesia sekuat tenaga terus mendorong dan membantu agar krisis kemanusiaan ini cepat terselesaikan.

Sore ini, Menlu Retno juga akan bertolak ke Myanmar dan bertemu dengan otoritas setempat untuk membicarakan krisis kemanusiaan ini.

Menurut rencana, Menlu Retno akan bertolak ke Yangoon sore ini, dan keesokan paginya, dia langsung melanjutkan perjalanan ke Nay Pyi Taw.

Sedikitnya 104 orang, termasuk 12 anggota pasukan keamanan, tewas di negara bagian Rakhine sesudah militan Rohingya yang dinamakan Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA) menyerang polisi pada Jumat 25 Agustus. Aksi itu menjadi pertempuran paling berdarah sejak pertikaian meletus tahun lalu.

Operasi perburuan militan yang dilancarkan militer Myanmar memaksa Rohingya melarikan diri ke perbatasan, termasuk ke negara tetangga Bangladesh.

Kecaman atas kekerasan di Rakhine dialamatkan banyak pihak ke pemerintah Myanmar. Unjuk rasa juga digelar di Indonesia sebagai bentuk protes atas sikap diam Myanmar, terutama pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. 

 


(WIL)