Presiden Filipina Tawarkan Diri jadi Tuan Rumah Konferensi HAM

Marcheilla Ariesta    •    Jumat, 10 Nov 2017 13:38 WIB
filipina
Presiden Filipina Tawarkan Diri jadi Tuan Rumah Konferensi HAM
Presiden Filipina Rodrigo Duterte berbicara di forum APEC (Foto: AFP).

Da-nang: Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyebutkan negaranya siap menjadi tuan rumah konferensi Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Padahal, dia sendiri tersandung kasus kekerasan HAM lantaran perang narkoba yang dilakukannya.

"Negara saya bisa menjadi tuan rumah dari konferensi tingkat tinggi dunia untuk mengatasi bagaimana negara dapat melindungi hak asasi manusia," ujar Duterte, seperti dilansir dari laman South China Morning Post, Jumat, 10 November 2017.

Pernyataan ini disampaikan Duterte dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasific (APEC) di Vietnam. Dia menuturkan, konferensi tersebut seharusnya fokus pada kekerasan di seluruh dunia, tak hanya di Filipina saja.

Beberapa negara Barat dan kelompok hak asasi manusia dengan keras mengkritik kampanye anti-narkoba Duterte sebagai pembunuhan masal. Pasalnya, lebih dari 3.900 terduga pengguna dan pengedar obat-obatan, tewas di tangan polisi.

"Mari kita menjadi puncak untuk melindungi hak asasi manusia bagi seluruh umat manusia," tuturnya.

"Apa yang kami buat, kematian orang-orang di Filipina lebih penting dibanding pembantaian anak-anak lain di dunia," imbuhnya.

Duterte menyebutkan, semua korban pelanggaran hak asasi manusia dipersilakan menghadiri pertemuan puncak tersebut dan menyampaikan keluhannya.

Mantan wali kota Davao tersebut diserang ahli hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard. Duterte mengatakan Callamard seharusnya memberikan komentar mengenai korban pemboman dan kekerasan di Timur Tengah dari pada berkata buruk tentang pemerintahannya.

Karenanya, dia mengancam Callamard jika masih melakukan investigasi atas jumlah korban tewas dalam perang narkoba. Tak hanya Callamard, Duterte juga mengancam melarang dua anggota parlemen Amerika Serikat (AS) untuk tidak datang ke Manila, atas kritikan mereka terhadap undangannya untuk Presiden AS Donald Trump.


(FJR)