Komunitas Tionghoa di Seluruh Dunia Merayakan Imlek

Willy Haryono    •    Selasa, 05 Feb 2019 11:16 WIB
hari raya imlekimlek
Komunitas Tionghoa di Seluruh Dunia Merayakan Imlek
Tahun Baru Imlek 2750 dipenuhi pernak-pernik babi. (Foto: AFP / Isaac LAWRENCE)

Beijing: Komunitas Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek 2750 dengan berdoa, makan bersama keluarga dan berbelanja ke berbagai pusat perbelanjaan, Selasa 5 Februari 2019.

Dalam sepekan terakhir di pulau utama Tiongkok, ratusan juta orang memadati kereta api, bus, mobil dan pesawat untuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Kota-kota besar seperti Beijing pun relatif kosong.

Imlek di Tahun Babi ini dirayakan di seluruh dunia, mulai dari pecinan di sejumlah negara di Asia Tenggara hingga ke Australia, Inggris, Kanada, Amerika Serikat dan lainnya.

Hari raya terpenting dalam kalender Tionghoa ini biasa dirayakan bersama keluarga dengan makan-makan dan bertukar hadiah serta uang tunai dalam amplop merah atau biasa disebut angpau.

Babi merupakan simbol keberuntungan dan kekayaan dalam budaya Tionghoa. Imlek tahun ini pun dipenuhi dekorasi, ucapan selamat datang dan cinderamata yang semuanya menghadirkan simbol babi.

Media nasional Tiongkok melaporkan selama musim Festival Musim Semi -- periode 40 hari bernama Chunyun -- komunitas Tionghoa akan melakukan banyak perjalanan, yang jumlahnya dapat mencapai tiga miliar.

Senin 4 Februari, berbagai ruas jalan di Beijing relatif sepi. Banyak toko dan restoran ditutup hingga pekan depan. Selain makan-makan dan bertukar angpau, banyak keluarga Tionghoa yang berwisata ke Thailand, Jepang dan destinasi wisata lainnya.

Kantor berita Xinhua melaporkan, sekitar tujuh juta turis Tionghoa akan bepergian ke luar negeri sepanjang Festival Musim semi tahun ini.


Imlek biasa dirayakan bersama keluarga. (Foto: AFP)

Perayaan Imlek di Kancah Global

Di Hong Kong, pasar bunga dipenuhi warga yang membeli bunga anggrek, mandarin dan peach blossom untuk mendekorasi rumah mereka. Banyak toko juga menjajakan bantal, tas dan mainan berbentuk babi.

Malaysia, negara dengan 60 persen total populasi adalah Muslim, beberapa pusat perbelanjaan memilih tidak menampilkan dekorasi babi. Di beberapa toko, terdapat dekorasi babi, namun tidak dipasang di area luar.

Sejumlah warga dan pedagang mengatakan hal ini biasa terjadi di Malaysia. Secara umum, tidak ada kontroversi signifikan dalam Imlek 2750 di Malaysia, meski ini merupakan Tahun Babi.

Sementara di Indonesia, negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Imlek adalah hari libur nasional. Acara khas Imlek seperti barongsai digelar di beberapa area publik, dan banyak pusat perbelanjaan memasang dekorasi bersimbolkan babi.


Pertunjukan Barongsai digelar di beberapa kota di Indonesia. (Foto: AFP)

Menuju Asia Timur, perayaan Imlek di Jepang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Menara Tokyo akan menyala merah untuk kali pertama untuk merayakan Imlek.

Di Barat, parade dan barongsai di beberapa kota seperti New York dan London juga diyakini akan menarik banyak orang. 'Sahabat' Tiongkok seperti Presiden Pakistan Arif Alvi dan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen telah menyampaikan ucapan selamat Imlek kepada Negeri Tirai Bambu.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menggunakan akun media sosial untuk menyisipkan pesan politik kepada Beijing. "Di Taiwan, kami dapat menjaga tradisi dan budaya kami," ucap dia, dalam sebuah video ucapan selamat tahun baru Imlek dalam lima bahasa berbeda: Mandarin, Taiwan, Hakka, Teochew dan Kanton.

Otoritas Tiongkok telah lama dituduh sejumlah kritik dan etnis minoritas selalu berusaha mendorong penggunaan bahasa Mandarin ketimbang bahasa lainnya.

Tiongkok masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah yang akan direunifikasi di masa mendatang, meski kedua kubu telah dipisahkan sejak berakhirnya perang sipil di tahun 1949.

Hubungan Taipei dan Beijing dimulai kurang baik tahun ini, usai Presiden Xi Jinping dalam pidatonya bulan lalu menyebut reunifikasi Taiwan merupakan suatu hal "yang tidak dapat terhindarkan."


(WIL)