Lima Dampak Politis Rencana Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem

   •    Kamis, 07 Dec 2017 10:15 WIB
israel palestinadonald trumppalestina israel
Lima Dampak Politis Rencana Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem
Kedubes AS di Tel Aviv. (Foto: Jack Guez/AFP/Getty Images)

Jakarta: Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem. Jika Trump pada akhirnya benar-benar mengambil keputusan ini, maka akan memiliki lima konsekuensi dan dampak politis terhadap perpolitikan timur tengah maupun di tingkat global.

Berikut keterangan tertulis dari Muhammad Ja'far, Ketua Pusat Kajian Hubungan Strategis Indonesia-Timur Tengah: 

1) Keputusan Trump ini secara langsung merupakan bentuk pengakuan resmi AS bahwa Yerussalem adalah ibu kota resmi Israel. Pada sisi yang lain, keputusan Trump justru menjadi bentuk penolakan pemerintah AS atas keabsahan hak politik Palestina atas kota Yerussalem. Padahal sampai saat ini perundingan damai Palestina-Israel belum memutuskan status legal politik Yerussalem. Dengan  kata lain, keputusan Trump ini tidak mencerminkan prinsip netralitas politik luar negeri AS, terutama dalam konteks konflik politik Palestina-Israel. Selain itu juga tidak mencerminkan penghormatan hak-hak politik dasar Palestina terhadap wilayah teritorinya.

2) Keputusan Trump ini secara politik dan diplomatik merupakan bentuk pengakuan pemerintah AS bahwa Israel adalah pemilik legal atas wilayah Yerussalem. Selain itu, keputusan ini juga bentuk pengakuan bahwa Israel adalah negara yang secara sah memiliki otoritas politik-kenegaraan atas Yerussalem sebagai ibukota negaranya. Artinya, dengan keputusan ini pemerintah AS telah mengabaikan dan melanggar hak-hak politik negara Palestina atas kota Yerussalem yang hingga kini sebenarnya masih menjadi teritori yang diperebutkan. Keputusan Trump ini menunjukkan visi politik luar negeri yang memihak pada Israel.

3) Keputusan Trump ini akan mendelegitimasi seluruh pencapaian perundingan damai Palestina-Israel yang telah dicapai selama ini. Baik oleh presiden AS terdahulu maupun elemen dunia internasional. Sebab pengakuan atas status Yerussalem secara sepihak oleh Trump berarti pelanggaran terhadap klausul kesepakatan damai yang disepakati selama ini oleh Palestina dan Israel soal penangguhan status kota ini. Keputusan Trump ini merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap konsep perdamaian Palestina-Israel.

Baca: Palestina Sebut Pengakuan Yerusalem Kesalahan Terbesar Trump

4) Keputusan Trump ini merupakan keputusan politik dan diplomatik paling ekstrem yang diambil oleh seorang presiden AS. Presiden-presiden AS sebelumnya tidak pernah sampai pada level seekstrem ini dalam menerapkan kebijakan politik luar negerinya terhadap Palestina. Oleh karena itu, keputusan Trump ini akan mendegradasi posisi AS sebagai mediator dalam merancang peta jalan damai Palestina-Israel. Selain itu juga akan merusak citra politik AS di dunia internasional, terutama dunia Islam.

5) Keputusan Trump ini akan memicu instabilitas politik dan keamanan di tingkat regional Palestina dan Israel, terutama di kawasan Timur Tengah. Status politik Yerusalem sangat sensitif bukan hanya dalam konteks timur tengah, tapi juga dunia Islam secara keseluruhan. Keputusan Trump ini juga potensial memicu kemarahan dunia Islam secara global.

Kelima konsekuensi dan dampak politis di atas merupakan efek tak terhindarkan dari keputusan Trump yang sangat radikal terkait dengan status politik kota Yerussalem. Pemindahan kedubes AS ke Yerussalem secara simbolik maupun realistis sangat beresiko politik tinggi.

Penundaan Pemindahan

Trump telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel lewat sebuah pengumuman pada 6 Desember 2017 waktu AS.

Setelah pengumuman, Trump menandatangani memorandum berisi penundaan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem hingga enam bulan ke depan.

Dalam memorandum itu, Trump menyebut penundaan dilakukan demi melindungi kepentingan keamanan nasional AS. 

Sementara itu Kementerian Luar Negeri AS telah mengeluarkan travel warning untuk Tepi Barat dan Kota Tua Yerusalem.

 


(WIL)