Pengungsi Rohingya Kembali ke Myanmar, Sekjen PBB Risau

Arpan Rahman    •    Rabu, 17 Jan 2018 17:01 WIB
rohingyapengungsi rohingya
Pengungsi Rohingya Kembali ke Myanmar, Sekjen PBB Risau
Para pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh akan dikembalikan ke Myanmar (Foto: AFP).

New York: Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya setelah Myanmar dan Bangladesh mencapai kesepakatan mengenai pengembalian ratusan ribu Muslim Rohingya. Persetujuan itu mengesampingkan badan pengungsi PBB.
 
"Kami yakin akan sangat penting jika UNHCR terlibat penuh dalam operasi tersebut demi menjamin bahwa operasi itu sesuai dengan standar internasional," kata Guterres dalam sebuah konferensi pers di kantor pusat PBB seperti dilansir AFP, Rabu, 17 Januari 2018.
 
Kesepakatan tersebut, diselesaikan di ibu kota Myanmar, Naypyidaw pekan ini. Ditetapkan batas waktu dua tahun untuk memulangkan orang Rohingya ke Myanmar.
 
Guterres, yang bertugas sebagai komisaris tinggi PBB untuk pengungsi selama 10 tahun, mengatakan bahwa badan pengungsi PBB telah berkonsultasi mengenai kesepakatan tersebut. Namun kemudian tidak menjadi sebuah pihak dalam kesepakatan seperti yang biasanya terjadi pada rencana pemulangan pengungsi.
 
Kesepakatan berlaku bagi sekitar 750.000 orang Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menyelamatkan diri menyusul dua kali penumpasan tentara di negara bagian Rakhine, Myanmar utara, pada Oktober 2016 dan Agustus tahun lalu.
 
Guterres mengatakan penting bahwa pengembalian tersebut berupa sukarela dan orang Rohingya diizinkan kembali ke rumah asalnya bukan ke kamp-kamp penampungan.
 
"Hal yang terburuk adalah memindahkan orang-orang ini dari kamp-kamp di Bangladesh ke kamp-kamp di Myanmar," kata Guterres yang berbicara kepada wartawan setelah mempresentasikan prioritasnya untuk tahun 2018 ke Majelis Umum.
 
Negara-negara anggota PBB pada Desember mengadopsi sebuah resolusi yang mengecam kekerasan di negara bagian Rakhine. Meminta Guterres menunjuk seorang utusan khusus buat mengurus Myanmar.
 
Kepala PBB berkata, dirinya mengharapkan segera melakukan pengangkatan tersebut.
 
Lebih dari 650.000 Muslim Rohingya meninggalkan daerah yang dimayoritasi umat Budha sejak operasi militer diluncurkan di negara bagian Rakhine pada akhir Agustus.
 
Pejabat Myanmar bersikeras bahwa kampanye itu bertujuan membasmi militan Rohingya, yang menyerang pos polisi pada 25 Agustus. Tapi PBB mengatakan bahwa kekerasan tersebut merupakan pembersihan etnis.



(FJR)