Tim Pencari Fakta PBB Sebut Kekerasan di Rakhine Masih Ada

Sonya Michaella    •    Selasa, 21 Nov 2017 20:08 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Tim Pencari Fakta PBB Sebut Kekerasan di Rakhine Masih Ada
Ketua Tim Pencari Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Marzuki Darusman (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Ketua Tim Pencari Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Marzuki Darusman, melaporkan kekerasan yang menimpa Rohingya masih terus terjadi di Rakhine State sampai saat ini.

(Baca: Amnesty International: Etnis Rohingya Tak Bersisa di Rakhine).

Kendati demikian, Marzuki mengaku timnya belum masuk sampai ke Rakhine. Selama ini, ia hanya menerima dan bekerja berdasarkan laporan dari Amnesty Internasional yang memang sudah masuk ke Rakhine, walaupun hanya di desa tertentu.

"Hasil temuan dari Amnesty ini juga banyak membantu. Jangka waktu kami mencari fakta hanya sampai September 2018. Sedangkan Amnesty bisa dua tahun," kata Marzuki ketika ditemui di Jakarta, Selasa 21 November 2017.

"Kami bisa mempelajari temuan mereka. Sekarang kami tinggal menunggu informasi dari Pemerintah Myanmar yang saya rasa belum siap untuk menjelaskan," ucap dia lagi.

Tetapi, Marzuki yakin bahwa penantian timnya agar Pemerintah Myanmar akan bicara soal Rakhine versi mereka, akan terbayarkan. 

"Penelitian kami juga masih sangat awal. Tapi kami sudah sampai ke Bangladesh untuk melihat para pengungsi yang lari ke negara itu," tukas dia.

(Baca: Kehidupan Etnis Rohingya di Rakhine Serba Terbatas).

Saat berada di perbatasan Bangladesh, terutama Cox’s Bazaar, timnya melihat keadaan para pengungsi sangat susah dan memprihatinkan. 

"Ratusan ribu orang berada di tenda bambu plastik dan hidup di samping saluran air yang tidak mengalir. Mereka tidur dan hidup berdekatan dengan sampah dan sebagainya," ungkap Marzuki.

Dalam dua setengah bulan terakhir, Tim Pencari Fakta turun ke lapangan untuk memonitor segala peristiwa dan dampak yang terjadi.

Marzuki pun tetap menyimpulkan bahwa kekerasan masih berlangsung meski Myanmar telah mengumumkan bahwa kekerasan telah berakhir. 



(FJR)