China Ditekan Internasional Bebaskan Peraih Nobel yang Sakit

Arpan Rahman    •    Kamis, 13 Jul 2017 19:08 WIB
tahanan politik
China Ditekan Internasional Bebaskan Peraih Nobel yang Sakit
Tahanan politik China saat menjalani persidangan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Beijing: China menghadapi tekanan internasional yang terus berlanjut, pada Kamis 13 Juli 2017, supaya membebaskan pemenang Nobel, Liu Xiaobo. Ia terkena kanker sehingga disarankan mencari perawatan di luar negeri. 
 
Informasi resmi dari rumah sakit menunjukkan bahwa pejuang demokrasi itu hampir meninggal dunia.
 
 
Amerika Serikat (AS) dan Jerman menyuarakan keprihatinan atas penulis berusia 61 tahun setelah rumah sakit yang merawatnya mengatakan, pada Rabu 12 Juli 2017, bahwa dia mengalami kegagalan organ dan kesulitan bernafas.
 
Para dokter berkata, Liu harus menjalani ventilasi buatan agar tetap hidup. Namun keluarganya menolak, menurut Rumah Sakit Utama China Medical University di kota timur laut Shenyang.
 
Sejumlah kelompok hak asasi manusia telah mengecam kurangnya laporan independen mengenai kesehatan Liu. Mereka menuduh pihak berwenang memanipulasi informasi tatkala lokasi rumah sakit yang dijaga ketat menjadi satu-satunya sumber pembaruan medis.
 
Para pejabat belum mengatakan di mana Liu dirawat. Namun setidaknya lima petugas polisi menjaga bagian onkologi rumah sakit, Kamis, memantau akses ke unit tersebut. Beberapa lagi terlihat di tempat lain di dalam dan di luar gedung.
 
Liu, yang dijatuhi hukuman 11 tahun penjara karena 'subversi' pada 2009, dirawat di rumah sakit awal bulan lalu setelah dia dipindahkan dari penjara karena kanker hati stadium akhir.
 
Istrinya, penyair Liu Xia, sudah menemani  dirinya, namun kemampuannya untuk berkomunikasi dengan dunia luar terbatas. Pihak berwenang menahannya dalam tahanan rumah sejak 2010.
 
"Kami tetap khawatir bahwa baik Liu dan keluarganya tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar dan bahwa dia tidak bebas mencari perawatan medis atas pilihannya," juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan, Rabu.
 
Juru bicara pemerintah Jerman Steffen Seibert mengatakan Berlin, "siap menjadi tuan rumah dan secara medis merawat dia".
 
"Pembaruan kesehatan Liu mengangkat pertanyaan apakah kanker itu seharusnya didiagnosis dan diobati jauh lebih awal," kata Seibert, seperti disitir AFP, Kamis 13 Juli 2017.
 
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen juga meminta Beijing agar membebaskan Liu dan mengulangi tawarannya agar Liu diobati di pulau otonom tersebut.
 
Rezim 'tanpa belas kasihan'
 
Pemerintah China menolak permintaan internasional agar membebaskan Liu mencari perawatan di luar negeri. Otoritas Negeri Tirai Bambu mengatakan bahwa dia mendapatkan perawatan terbaik dari dokter dalam negeri terkemuka dan bahwa negara-negara lain tidak usah "turut campur dengan urusan dalam negeri China".
 
Seorang dokter Jerman dan AS mengunjungi Liu akhir pekan lalu dan mengatakan bahwa dia masih cukup kuat untuk bepergian ke luar negeri. Akan tetapi, rumah sakit tersebut mengeluarkan laporan yang semakin pesimis setiap hari sejak saat itu.
 
Liu berisiko menjadi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian pertama yang meninggal dalam tahanan sejak juru damai Jerman Carl von Ossietzky, meninggal di sebuah rumah sakit di bawah Nazi pada 1938.
 
Liu ditangkap pada 2008 setelah menulis Piagam 08, sebuah petisi yang menyerukan perlindungan hak asasi manusia dan reformasi sistem Komunis satu partai China.
 
Ye Du, seorang aktivis yang dekat dengan keluarga tersebut, mengatakan bahwa dia tidak mengharapkan pihak berwenang membiarkan Liu pergi karena pemerintah yang dipimpin Komunis "tanpa belas kasihan kemanusiaan".
 
"Bahkan jika dia tidak memiliki tiga tahun atau tiga bulan, tapi hanya memiliki waktu tiga jam untuk tinggal, selama dia bisa berbicara dengan bebas mengenai politik, maka partai politik semacam ini -- yang harus mengendalikan warganya agar mempertahankan legitimasinya - tidak akan mau membebaskannya," kata Ye.



(FJR)