Antisipasi Dampak Nuklir Korut, RI Segera Pasang Enam Detektor

Sonya Michaella    •    Rabu, 17 May 2017 17:47 WIB
nuklir
Antisipasi Dampak Nuklir Korut, RI Segera Pasang Enam Detektor
Direktur Keteknikan dan Kesiapan Nuklir Badan Pengawas Nuklir (BAPETEN), Dedik Eko Sumargo, di Kemenlu RI, Jakarta, 17 Mei 2017.

Metrotvnews.com, Jakarta: Enam detektor CTBT untuk mendeteksi zat radioaktif akibat ledakan nuklir akan dipasang Indonesia di wilayah sebelah utara pada 2018 mendatang. Tahun ini, observasi mengenai pemasangan detektor tersebut juga segera dilakukan.

"Tahun 2018 target pemasangannya. Itu akan menjadi jawaban lengkap jika ada yang tanya, misalnya Korea Utara (Korut) meledakkan nuklir. Ada efeknya ke Indonesia atau enggak. Nah, detektor itu bisa mendeteksi efeknya," kata Direktur Keteknikan dan Kesiapan Nuklir Badan Pengawas Nuklir (BAPETEN), Dedik Eko Sumargo, ketika ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu 17 Mei 2017.

Pemasangan detektor ini dilakukan BAPETEN bekerja sama dengan BMKG. Selain enam detektor, 48 detektor BMKG lainnya juga akan dipasang untuk mendeteksi radioaktif lingkungan.

"Yang paling dekat ya Korut. Maka kita pagari di sebelah utara dan batas ZEE. Kita adang pakai RPM kerja sama dengan BAKAMLA agar zat nuklir, zat radioaktif yang ilegal tidak masuk ke Indonesia," lanjut dia.


Korut berusaha membuat roket yang bisa membawa hulu ledak nuklir. (Foto: KCNA)

Kemudian ia memberikan contoh pembangkit nuklir di Fukushima, Jepang, yang hancur karena bencana tsunami pada 2011. Dedik menuturkan, bahwa saat itu pembangkit nuklir Fukushima terbilang gagal karena semua lampu sudah mati.

"Itu baru diterjang tsunami. Kalau diterjang bom nuklir bagaimana? Makanya kita juga belajar dari pengalaman negara lain bahwa kita juga harus memagari negara kita," ungkap dia.

Seperti halnya dengan nuklir di India atau Pakistan. Jika nuklir dua negara tersebut meledak, adanya dampak tak langsung ke Indonesia seperti arah angin.

"Dampak langsung enggak ada. Tapi kalau dampak tak langsungnya ada, yaitu angin yang arahnya ke Indonesia. Jadi apapun yang terjadi di Korut, AS dan Eropa, suatu saat (dampaknya) akan sampai ke Indonesia kalau terjadi perang nuklir," pungkas dia. 

 


(WIL)