Dubes Rusia Bicara soal Indonesia, Putin, Suriah dan Amerika

Sonya Michaella    •    Selasa, 29 May 2018 10:25 WIB
rusiaindonesia-rusia
Dubes Rusia Bicara soal Indonesia, Putin, Suriah dan Amerika
Duta Besar Rusia untuk Indonesia yang baru, Lyudmila Georgievna Vorobieva. (Foto: Sonya Michaella/medcom)

Jakarta: Rusia, negara yang mencakup Asia Utara dan Eropa Timur ini memliki banyak pengaruh di dunia politik internasional. Rusia juga tidak lepas dari berbagai tuduhan yang dilayangkan para lawannya, mulai dari konflik Suriah hingga aksi percobaan pembunuhan mantan agen mata-mata. 

Kali ini, Medcom.id berkesempatan untuk mewawancarai Duta Besar Rusia untuk Indonesia yang baru, Lyudmila Georgievna Vorobieva soal hubungan Rusia dan Indonesia, terpilihnya kembali Vladimir Putin menjadi presiden, keadaan Suriah serta kondisi hubungan Rusia dan Amerika Serikat, pada Jumat 4 Mei 2018 di kediaman Dubes Vorobieva. 

Sebagai duta besar baru untuk Indonesia, bagaimana menurut Anda hubungan Rusia dan Indonesia?
Terima kasih. Saya baru saja sampai ke Jakarta satu setengah bulan yang lalu. Beberapa hal tentu sudah saya pelajari sebelum ditempatkan di Indonesia, salah satunya Rusia dan Indonesia adalah mitra tradisional. Indonesia merupakan mitra penting untuk Rusia, di kawasan ASEAN, Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik. Hubungan bilateral berjalan dengan baik. Kedua presiden kita berteman baik. Kami terus berusaha meningkatkan hubungan bilateral. Tahun lalu, nilai perdagangan dua negara naik 25 persen, mencapai USD3,3 triliun, yang saya nilai merupakan kemajuan yang bagus. Tahun 2016 Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Vladimir Putin di Sochi, dilanjutkan tahun 2017 Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov ke Indonesia dan baru saja Maret kemarin, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi ke Moskow. Ini menunjukkan ada kemauan dua negara untuk bersahabat dan juga meningkatkan hubungan dua arah. Beberapa proyek kerja sama kami dengan Indonesia juga berkembang, antara lain proyek jalur kereta api di Kalimantan, minyak di Jawa, dan banyak proyek yang penting.

Saya juga ingin menekankan satu hal yang menarik antara kerja sama dua negara, yaitu bidang pendidikan. Saat ini, ada sekitar 300 pelajar Indonesia menimba ilmu di Rusia. Bidang yang mereka ambil yaitu farmasi, arsitektur, dan hubungan internasional. Meski kecil angkanya, saya optimistis angka ini akan terus naik di tahun ini. Untuk Indonesia, kami menawarkan 160 beasiswa pemerintah Rusia.
Selain Indonesia, pelajar asal Malaysia, Vietnam dan Myanmar juga memilih Rusia sebagai negara tujuan belajar. Jumlah mereka dari masing-masing negara bahkan mencapai 3.000 pelajar. 


Presiden RI Joko Widodo saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Sochi/Biro Pers Istana

Apakah untuk kuliah di Rusia diperlukan fasih berbahasa Rusia?
Ya betul sekali. Kami mengharuskan semua siswa asing yang belajar di Rusia untuk mengambil foundation course selama satu tahun untuk belajar bahasa Rusia. Setelah itu, mereka baru bisa belajar bidang yang mereka pilih. Saya ingin pelajar Indonesia tak hanya belajar bahasa Rusia tetapi kultur dan budaya. 

Menurut Anda, apakah ada persamaan antara Rusia dan Indonesia?
Tentu ada. Rusia dan Indonesia adalah negara yang sama-sama multikultur. Meski negara kami didominasi umat Kristen, kami juga memiliki penduduk Muslim dan mereka bukan migran. Mereka penduduk asli Rusia. Mereka minoritas dan hidup berdampingan dengan mayoritas. Sekitar 12 persen dari 147 juta penduduk Rusia adalah Muslim. Tahun lalu, Presiden Putin juga meresmikan masjid di Moskow. Sejauh ini, tidak pernah ada gesekan antar agama dan penduduk yang berbeda.

Di tahun 2018, apa upaya Anda sebagai perwakilan dari pemerintah Rusia untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia? Dan bidang apa saja?
Sangat banyak kesempatan yang bisa kita tingkatkan, terutama ekonomi, perdagangan, dan investasi. Kami ingin meningkatkan tren perdagangan dengan Indonesia. Yang saat ini tercapai, menurut kami belum cukup. Mungkin kami juga akan melihat berbagai kesempatan di bidang lain seperti energi. Maksud saya, energi memang bukan hal baru di hubungan dua negara, tapi mungkin Indonesia bisa memutuskan apakah akan menggunakan energi nuklir untuk listrik.

Kami tentu memiliki energi nuklir untuk listrik yang sangat bagus. 20 persen listrik di Rusia menggunakan energi nuklir. Fasilitas yang kami miliki juga sangat aman untuk digunakan. Selain itu, kami juga menawarkan bidang farmasi, agrikultur, sains dan teknologi. Banyak hal bagus yang bisa dikerjakan bersama. Apalagi KBRI Moskow juga termasuk perwakilan Indonesia yang sangat aktif. Mereka kerap menggelar festival untuk mempromosikan Indonesia kepada warga Rusia. Tahun lalu saya menyempatkan diri untuk datang. Sayang sekali tahun ini saya tidak dapat hadir.

Untuk rencana Presiden Vladimir Putin ke Indonesia, sejauh apa persiapannya?
Saya tidak bisa membeberkan detil persiapannya. Yang pasti, kami menyiapkan segala sesuatunya dengan serius. Presiden Putin baru saja dilantik, jadi mungkin jadwal kunjungan kerja ke luar negeri baru disusun. Sebagai dubes, saya tentu berharap Presiden Putin akan mengunjungi Indonesia. 

Terpilih lagi sebagai Presiden Rusia, bagaimana Putin menghadapi berbagai polemik dalam dan luar negeri?
Saya pikir Presiden Putin sudah melakukan banyak hal untuk Rusia. Apa yang kami sebut politik luar negeri, selalu sejalan dengan politik dalam negeri kami. Presiden Putin pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Rusia dan memberikan kemajuan kepada negara kami. 77 persen suara yang didapatnya, menunjukkan ia masih mampu untuk memimpin Rusia. Kami mendukung apapun yang ia lakukan.


Presiden Rusia Vladimir Putin/AFP

Bagaimana tanggapan Rusia sendiri ketika mendapat banyak serangan dari Barat di berbagai isu, termasuk dari media mereka?
Saya pikir, itu sudah direncanakan dengan baik. Maksud saya, penyerangan terhadap Rusia. Itu sudah direncakan untuk menjelekkan imej Rusia. Kami tidak takut karena kami berpegang pada hukum internasional. Banyak sekali yang menyerang kami dari berbagai isu, seperti isu Sergei Skripal dan putrinya yang disebut bahwa kami-lah yang meracun mereka. Tidak ada bukti hingga sekarang. Tentu tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Diplomat kami di Inggris diusir, bahkan sebelum diberi kesempatan untuk melihat seperti apa kondisi Skripal dan juga lokasi tempat ia ditemukan. Apakah sudah pasti mereka memang tinggal di London? Bagaimana jika mereka diculik atau disandera?

Hal yang sama juga terjadi di Douma, Suriah, yang di mana Rusia dituduh meluncurkan serangan kimia dan menewaska warga sipil. Banyak video bertebaran di media Barat pun media sosial. Kami-lah korban itu. Kami dituduh tanpa bukti yang jelas. Beberapa video menunjukkan warga sipil sesak napas karena serangan kimia. Apakah kalian percaya begitu saja bahwa itu kejadian yang sebenarnya? Video itu jelas palsu dan informasi yang diberikan juga palsu. 

Di mana hukum internasional? UN Charter? Regulasi? Saya tekankan, tanpa bukti yang jelas, mereka tak bisa menuduh Rusia melakukan semua kejahatan yang jelas-jelas kami perangi.

Lalu, bagaimana sesungguhnya peran Rusia di Suriah hingga saat ini?
Di sini saya juga ingin menegaskan bahwa kami memerangi terorisme di Suriah. Bukan semata-mata mendukung Bashar Al-Assad tanpa alasan. Bukan kami mendukungnya karena masalah personal. Kami mendukung pemerintahan yang memerangi terorisme. 

Tentu saja selain itu kami juga menganjurkan adanya dialog inklusif antara pemerintah dan juga oposisi serta pihak lain untuk membawa perdamaian di Suriah. Itu yang kami usahakan selama ini. 


Kondisi Suriah saat ini/AFP

Berbicara soal hubungan Rusia dan Amerika Serikat (AS), apakah benar hubungan Putin dan Donald Trump lebih baik daripada hubungan Putin dan Barack Obama?
Saya tidak mau mengomentari secara personal. Yang saya lihat, kami jelas tidak memulai konfrontasi terlebih dahulu. Tentu kami menghormati AS. Tapi menurut saya, mereka tidak membutuhkan mitra, tetapi mereka membutuhkan orang atau negara yang akan menuruti keinginan mereka dan itu jelas bukan Rusia. Kami adalah mitra seimbang bagi mereka. Seandainya ada dialog, Rusia jelas mau untuk duduk dengan AS, dengan catatan kami adalah negara yang seimbang kekuatannya. Sekali lagi, apa yang terjadi sekarang antara dua negara, bukan Rusia yang memulainya.

Bagaimana posisi Rusia terkait keluarnya AS dari kesepakatan nuklir Iran?
Sangat disesalkan. Kami akan terus berpegang pada kesepakatan itu karena kesepakatan tersebut sangat berguna dan menguntungkan. Kesepakatan nuklir Iran harus terus dilanjutkan.


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di Da Nang/AFP

Masuk ke masalah Korea Utara, Rusia adalah negara yang bermitra dengan Korut, bagaimana pendapat Anda soal perdamaian Utara dan Selatan?
Kami menyambut baik perdamaian itu. Apapun yang bisa dilakukan dengan dialog, tentu kami mendukungnya. Kami juga berharap tensi di Semenanjung Korea berakhir mengingat Korut adalah tetangga kami. Hanya satu yang kami rasa tidak tepat adalah sanksi unilateral. Sanksi tersebut sangatlah tidak berguna dan hanya memperkeruh suasana. Lihat buktinya pada Korut, Kuba dan Rusia.

Satu lagi, saya pikir adanya Korut mengembangkan program nuklirnya adalah untuk melindungi negaranya sendiri. Meski Rusia jelas tidak mendukung program nuklir untuk kekuatan militer seperti itu. Sangat masuk akal apa yang pemimpin mereka lakukan, melihat apa yang terjadi di dunia seperti di Irak, Suriah dan Libya. Mereka membangun program nuklir untuk melindungi diri. 

Untuk Piala Dunia 2018? Bagaimana sejauh ini kesiapan Rusia?
Persiapan tentu sudah matang mengingat tinggal satu bulan lagi penyelenggaraan Piala Dunia. Presiden FIFA juga sudah berkunjung ke Moskow untuk bertemu dengan Presiden Putin guna membicarakan segala keperluan dan persiapan. Kami harap para pemain dan juga penonton dari luar negeri menikmati pertandingan demi pertandingan dan juga Rusia di musim panas nanti.

Apa harapan Anda untuk tim nasional Rusia?
Jujur, saya bukan penggemar olahraga apalagi sepak bola. Tetapi jika ditanya, tentu saya ingin tim nasional kami menang.

Sebagai duta besar baru, apa Anda sudah bisa berbicara Bahasa Indonesia?
Belum fasih. Tetapi saat ini saya sedang belajar bahasa. Beberapa kalimat saya bisa mengucapkan, seperti "selamat datang ke Rusia".

Sudah mencoba makanan khas Indonesia?
Tentu sudah. Saya sangat menyukai makanan Indonesia. Tetapi karena sebelumnya saya ditempatkan di Malaysia, jadi saya sudah terbiasa karena makanan Indonesia dan Malaysia hampir sama seperti nasi goreng atau nasi lemak. 

Bagaimana dengan udara di Indonesia? Apakah Anda sudah terbiasa?
Tentu. Saya sangat menyukai udara di Indonesia yang hanya dua musim. Di Rusia, jika musim dingin, sangat dingin sekali. Saya juga suka orang-orang Indonesia. Mereka sangat ramah dan terbuka. 

Sebelum ditempatkan di Indonesia, Anda bekerja untuk perwakilan Rusia di mana?
Sebelum Indonesia, lima tahun saya di Malaysia sebagai wakil duta besar. Jadi Indonesia adalah negara pertama saya sebagai duta besar. Sebelum Malaysia, saya ditempatkan di Thailand dan Laos.


(FJR)