Perjanjian Ekstradisi ASEAN Dibahas dalam AMM di Singapura

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 10 Jan 2018 18:29 WIB
asean
Perjanjian Ekstradisi ASEAN Dibahas dalam AMM di Singapura
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Indonesia Jose Tavares (Foto:Medcom.id/Marcheilla)

Jakarta: Kementerian Luar Negeri Indonesia terus mendorong proses perjanjian ekstradisi tingkat ASEAN sebagai salah satu fokus diplomasi Indonesia. Karenanya, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Jose Tavares menyatakan masalah perjanjian ekstradisi masih terus diupayakan.

Menurutnya, proses perjanjian ekstradisi masih dalam tahap awal. Pasalnya, proses ini bisa membutuhkan cukup banyak waktu.

Ditemui di Kantin Diplomasi Kementerian Luar Negeri Indonesia, Jose mengungkapkan bahwa perjanjian ekstradisi akan dibahas lebih lanjut oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

"ASEAN memang Kemenlu yang koordinir, namun extradition treaty itu ada di sektoral, di Kemenkumham dealnya," ucapnya kepada wartawan pada Rabu 10 Januari 2018.

"Gambarannya, kalau ada penjahat di negara anggota ASEAN, ya bisa di ekstradisi, dan begitu pula sebaliknya," imbuhnya.

Jose menuturkan pelaku korupsi dapat dipulangkan menggunakan perjanjian ekstradisi tingkat ASEAN. Jose menambahkan Indonesia saat ini telah menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Thailand, Malaysia dan Filipina. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI Damos Dumoli Agusman mengatakan perjanjian ekstradisi Indonesia dan Singapura belum rampung. Dia beralasan proses ratifikasi perjanjian masih dibahas di parlemen kedua negara.

"Dinamika politik karena proses ratifikasi itu kan juga proses politik ke parlemen masing-masing," tutur Damos

Proses di parlemen Indonesia sendiri masih tersendat karena ada perbedaan pendapat mengenai bentuk kerja sama yang disepakati.




(WAH)