Tiongkok Kirim Utusan ke Korut Menyusul Kunjungan Trump

Arpan Rahman    •    Rabu, 15 Nov 2017 17:06 WIB
tiongkokdonald trump
Tiongkok Kirim Utusan ke Korut Menyusul Kunjungan Trump
Presiden AS Donald Trump saat melakukan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Beijing (Foto: AFP).

Beijing: Tiongkok mengatakan akan mengirimkan seorang utusan khusus tingkat tinggi ke Korea Utara (Korut) menyusul kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Beijing.

Perutusan itu dikirim di tengah dinginnya hubungan antara kedua negara tetangga mengenai senjata nuklir Pyongyang dan program rudalnya.

Song Tao, kepala Departemen Perhubungan Internasional Partai Komunis Tiongkok, akan melakukan perjalanan ke Pyongyang, pada Jumat mendatang. Ia melaporkan hasil kongres nasional partai tersebut, yang diadakan bulan lalu, menurut kantor berita resmi Xinhua News Agency.

Xinhua melaporkan bahwa Song akan melakukan "kunjungan" di samping menyampaikan laporannya. Namun tidak memberikan rincian tentang rencana perjalanan atau pertemuannya.

Juga tidak menyebutkan perjalanan Trump ke Beijing atau program senjata Korut. Walaupun Trump sudah berulang kali meminta Beijing berbuat lebih banyak guna memanfaatkan pengaruhnya supaya Pyongyang dalam mengubah perilakunya.

Song akan menjadi pejabat kementerian tingkat nasional pertama yang mengunjungi Korut sejak Oktober 2015, ketika anggota Komite Politbiro Liu Yunshan bertemu pemimpin Korut Kim Jong Un. Liu menyampaikan sepucuk surat kepada Kim dari presiden Tiongkok Xi Jinping. 

Isinya mengungkapkan harapan menguatkan relasi, meski terbukti di sela jeda hubungan yang dingin tidak lama kemudian. Wakil menteri luar negeri Liu Zhenmin mengunjungi Pyongyang pada Oktober tahun lalu.

Partai Komunis Tiongkok dan Partai Pekerja Korut memiliki ikatan lama, yang sering menggantikan diplomasi formal. Bahkan saat Beijing sudah frustrasi dengan provokasi Pyongyang dan keengganan Korut buat mereformasi ekonominya.

Tiongkok juga merupakan mitra dagang terbesar Korut dan sumber utama bantuan pangan dan bahan bakar. Kendati dikatakan, pengaruhnya atas rezim Kim sering dibesar-besarkan oleh AS dan negara lainnya. Meskipun menerapkan sanksi baru PBB, yang menargetkan sumber pendapatan Korut, Beijing telah meminta langkah-langkah memperbarui dialog.

Beijing juga menentang manuver yang dapat menurunkan rezim Kim, yang mungkin melenyapkannya sebagai sebuah penyangga dengan Korea Selatan (Korsel). Hampir 30.000 tentara AS ditempatkan di Semenanjung Korea. Dan kini menyebabkan krisis pengungsi serta kekacauan di sepanjang perbatasannya dengan Korut.

Di Beijing, Kamis lalu, Trump mendesak Xi menekan Korut menghentikan program senjata nuklirnya.

Tiongkok bisa memperbaiki masalah "dengan mudah dan cepat," kata Trump dalam sambutan kepada wartawan didampingi Xi. Dia mendesak Xi "semoga bekerja dengan sangat keras".

"Jika dia mengerjakannya dengan keras, itu akan terjadi. Tidak ada keraguan tentang hal itu," kata Trump, seperti disitat Belfast Telegraph, Rabu 15 November 2017.

Saat menyerukan pentingnya kunjungan tersebut, seorang pakar terkemuka Tiongkok mengenai relasi Tiongkok-Korut, menepis kaitannya dengan pernyataan Trump di Beijing. Ia mengatakan bahwa hal itu sesuai dengan pola hubungan tradisional antara kedua pihak setelah kejadian penting seperti kongres nasional.

"Utusan dikirim guna menjelaskan sisi lain pada waktu yang baik dan tingkat yang dipilih. Inilah tradisi dan tidak perlu menghubungkannya dengan kunjungan Trump ke Tiongkok," kata Guo Rui, peneliti di Institute for North Korean and South Korean Studies di Universitas Jilin, timur laut Tiongkok.

Namun, dia katakan bahwa kunjungan tersebut "menunjukkan kesediaan Tiongkok melihat perkembangan hubungan persahabatan yang berkelanjutan antara kedua belah pihak".

"Meskipun situasi Semenanjung Korea telah berkembang dengan cepat berikut indikasinya yang mengkhawatirkan, kedua pihak menjaga relasi normal dan itu penting demi menstabilkan hubungan bilateral dan situasi semenanjung," kata Guo.

Korut menguji coba nuklir keenam pada 3 September. Meledakkan bom yang diklaimnya sebagai bom hidrogen. Terakhir menembakkan rudal balistik ke pulau Hokkaido Jepang sampai Samudera Pasifik pada 15 September.

Sejak saat itu, timbul jeda dalam aktivitas sejenis, yang melambungkan harapan di Beijing bahwa Pyongyang mungkin menanggapi tekanan internasional dan mulai sepakat dengan pembicaraan.


(FJR)