Timor Leste: Hikayat Negara Demokrasi Terbaru di Dunia

Arpan Rahman    •    Selasa, 21 Mar 2017 10:59 WIB
pemilu timor leste
Timor Leste: Hikayat Negara Demokrasi Terbaru di Dunia
Warga Timor Leste memberikan suara dalam pemilu presiden di era kemerdekaan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Dili: Menurut para antropolog, nenek moyang pertama tiba di Timor, sekitar 40.000 sampai 20.000 SM, dari jenis Vedo-Australoide, mirip dengan Weda dari Sri Lanka.
 
Gelombang kedua, yang tiba sekitar 3000 SM, berasal dari Melanesia, mirip dengan yang hidup saat ini di Papua Nugini dan beberapa Kepulauan Pasifik. Mungkin karena sifat pegunungan negara itu, pendatang baru tidak bercampur dengan sisa penduduk lama, yang menarik diri ke daerah pegunungan di pedalaman. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Timor Leste memiliki begitu banyak bahasa yang berbeda.
 
Gelombang ketiga pendatang, yang tiba sekitar 2.500 SM, terdiri dari 'Proto-Melayu' -- yang berasal dari Tiongkok Selatan dan Indocina Utara. Bahkan saat ini, orang Tiongkok di Timor-Leste, terutama Hakka, salah satu komunitas perdagangan yang amat penting.
 
Dokumentasi perdagangan sporadis antara Timor dan Tiongkok tercatat sejak abad ke-7, termasuk perdagangan budak dan perniagaan lilin lebah dan cendana, kayu indah yang digunakan dalam pembuatan furnitur mewah dan wewangian.
 
Pada abad ke-14, penduduk Timor membayar upeti kepada Kerajaan Jawa. Nama Timor berasal dari nama yang diberikan untuk pulau itu dalam bahasa Melayu -- Timur berarti East.
 
Portugis Sampai di Timor
 
Portugis mencapai pantai Timor pada apa yang sekarang disebut enklave Oecusse, sekitar 1515. Mereka mendapat keuntungan besar dari ekspor kayu cendana, tetapi akhirnya mengeksploitasi sumber dayanya. Cendana menjadi hampir punah, Portugis pada 1815 memperkenalkan perkebunan kopi, bersama gula tebu dan kapas.
 
Orang-orang Portugis diikuti oleh para misionaris dan agama Katolik. Dengan kedatangan gubernur Portugis pertama pada 1702, kolonialisasi wilayah pun  dimulai, dan dinamakan Timor Portugis.
 
Sebuah riwayat sengketa teritorial antara Portugis dan Belanda, yang menguasai Timor Barat, telah diselesaikan dengan Perjanjian Frontier 1904 Portugal-Belanda, yang mendirikan perbatasan di antara kedua bagian pulau, masih dihormati hingga hari ini. Perjanjian itu sepenuhnya dilaksanakan pada 1916.
 
Ketika Perang Dunia II dimulai, Australia dan Belanda, yang menyadari pentingnya Timor sebagai zona penyangga, mendarat di Dili meskipun diprotes Portugis. Jepang kemudian memakai kehadiran Australia sebagai alasan untuk invasi, pada Februari 1942. Mereka menduduki pulau sampai September 1945.
 
Pada akhir perang, Timor berada di ambang reruntuhan. Sekitar 50.000 orang Timor telah kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari pendudukan Jepang dan upaya Timor untuk melawan penjajah serta melindungi Australia. Ketika Jepang akhirnya menyerah, keadaan di Timor menggambarkan salah satu penderitaan kemanusiaan dan kehancuran. Pemulihan berjalan lambat.
 
Berakhirnya Kolonialisme Portugis
 
Portugal mengatur Timor Leste dengan kombinasi pemerintahan langsung dan tidak langsung, mengelola populasi secara keseluruhan melalui struktur kekuasaan tradisional daripada menggunakan pegawai negeri kolonial. Model pemerintahan ini meninggalkan masyarakat Timor tradisional hampir tidak tersentuh.
 
Kudeta 1974 di Portugal (yang disebut "Carnation Revoution") menandai awal dekolonisasi di Timor Portugis dan koloni lainnya; tak lama kemudian Gubernur Timor Portugis Mário Lemos Pires mengumumkan rencana memberi kemerdekaan koloni ini.
 
Sejumlah rencana disusun buat mengadakan pemilihan umum dengan maksud untuk kemerdekaan pada 1978. Hampir selama 1975 perjuangan internal yang pahit terjadi antara dua kelompok yang bersaing di Timor Portugis, Front Revolusioner untuk Timor Timur Independen (FRETILIN) dan faksi saingan, yaitu Uni Demokratik Timor (UDT).
 
Mengambil keuntungan dari kekacauan internal itu dan mengincar koloni, Indonesia segera memulai kampanye destabilisasi.
 
Pada akhir 1975 FRETILIN telah menguasai Timor Portugis. Pada 28 November 1975, Fretilin mendeklarasikan kemerdekaan Timor Portugis sebagai "Republik Demokratik Timor Timur", atau "República Democrática de Timor Leste" (RDTL).
 
Kemerdekaan itu mati muda. Sembilan hari kemudian, Indonesia menginvasi Timor Timur. Kapal perangnya mendarat di Ibu Kota Dili dan mulai mengumpulkan dan mengeksekusi para pemimpin dan anggota partai politik, dan anggota keluarga mereka.
 
Pendudukan Indonesia
 
Pada tahap awal pendudukan Indonesia, lebih dari 60.000 orang Timor kehilangan nyawa mereka, acap kali dengan kondisi yang brutal. Seluruh desa dibasmi. 
 
Pusat-pusat penyiksaan adalah tempat biasa dan tahanan politik dieksekusi di depan publik secara massal. Populasi yang dipindahkan secara paksa sering mengakibatkan kelaparan skala besar.
 
Pada saat pendudukan berakhir, setidaknya 200.000 orang Timor -- sepertiga dari populasi mereka -- telah tewas.
 
Nicolau Lobato, pahlawan nasional dan Presiden kedua RDTL dan FALINTIL menjadi komandan yang tewas dalam pertempuran pada 31 Desember 1978.
 
Selama tahun-tahun pendudukan, para wartawan dilarang masuk pulau. Agresi bersenjata atas rakyat Timor menerima sedikit atau tidak ada liputan media -- telah disebut sebagai "konflik terlupakan", orang-orang dari pulau itu dianggap sebagai korban Perang Dingin.
 
Pada 12 November 1991, Timor-Leste meroket kembali ke media internasional ketika beberapa ribu mahasiswa di Dili menggelar demonstrasi tanpa kekerasan untuk demokrasi. Di Santa Cruz Cemetery di ibu kota, demonstrasi dimulai saat pemakaman salah satu mahasiswa, seorang aktivis kemerdekaan yang diduga dibunuh oleh tentara Indonesia. Duka cita menjadi aksi damai dari beberapa ribu orang, membawa spanduk dan meneriakkan slogan-slogan kemerdekaan dan demokrasi.
 
Tentara Indonesia dilaporkan menembaki para mahasiswa. Lebih dari 300 orang dikabarkan tewas dalam kejadian ini.
 
Sutradara asal Inggris, Max Stahl, hadir di pemakaman dan diam-diam memfilmkan beberapa bagian dari pembantaian. Video itu diselundupkan ke luar negeri dan dirilis ke media internasional.
 
Rilis video dari 'Santa Cruz' menandai titik balik dalam pendudukan brutal Timor Leste, tatkala para tokoh dan organisasi hak asasi manusia mulai menekan pemerintah mereka dan sejumlah organisasi internasional atas nama orang-orang Timor.
 
Pada 1992, pemimpin perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao ditangkap dan dipenjarakan.
 
Posisi Indonesia di Timor Timur menjadi semakin sulit pada 1996, ketika dua pemimpin Timor, Uskup Ximenes Belo dan Jose Ramos Horta, dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian, "untuk upaya mereka terhadap solusi yang adil dan damai bagi konflik di Timor Timur."
 
Pada 1997 dan 1998, Indonesia diguncang krisis ekonomi parah, yang mengarah ke tuntutan luas untuk perubahan politik. Presiden Indonesia Soeharto dipaksa mengundurkan diri, digantikan wakil presidennya, Bacharuddin Jusuf Habibie.
 
Setelah meningkatnya tekanan politik dan kembali ke meja perundingan, yang melibatkan para pemimpin dunia lainnya, Habibie mengumumkan bahwa ia akan mengizinkan rakyat Timor Leste untuk menentukan masa depan mereka dengan referendum kemerdekaan.
 
Referendum untuk Kemerdekaan
 
Pada 30 Agustus 1999, di bawah naungan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, sebuah jajak pendapat diadakan di Timor-Leste, yang memungkinkan penduduk Timor memilih, dengan suara, terus aneksasi oleh Indonesia atau kemerdekaan.
 
Rakyat Timor-Leste memberi suara -- lebih dari 80 persen -- mendukung kemerdekaan.
 
Indonesia didukung kawanan "milisi pro-integrasi " dan angkatan bersenjata Indonesia menanggapi dengan kekejaman yang luar biasa, mulai mengamuk, membakar, dan membunuh di seluruh pulau. Sepertiga dari penduduk dipaksa mengungsi dan dimukimkan kembali di bawah todongan senjata di kamp-kamp pengungsi di Timor Barat dan pulau-pulau tetangga. Sepertiga lainnya mencari perlindungan ke pegunungan Timor Leste.
 
Antara 1.000 dan 2.000 orang dilaporkan telah tewas dalam kekerasan itu. Sebanyak 85 persen bangunan -- hampir semua pusat bisnis dan sekolah, hancur. Jaring-jaring nelayan dibakar, truk dicuri ke Timor Barat atau rusak permanen, kerbau pekerja di ladang, digondol maling atau disembelih.
 
Melalui dukungan Amerika Serikat (AS) dan Australia, Dewan Keamanan PBB resmi mengirim pasukan multinasional (INTERFET), di bawah struktur komando terpadu Australia, untuk memulihkan perdamaian dan keamanan ke pulau tersebut. PBB secara bersamaan meluncurkan operasi kemanusiaan skala besar, membangun perumahan sementara, menyuplai makanan, dan perawatan medis ke pulau.
 
Pada 25 Oktober 1999, Dewan Keamanan PBB membentuk Pemerintahan Transisi PBB di Timor-Leste (UNTAET) sebagai operasi penjaga perdamaian multidimensi terpadu yang bertanggung jawab atas pemerintahan Timor-Leste selama masa transisi menuju kemerdekaan.
 
Kemerdekaan
 
Pada 30 Agustus 2001, Timor-Leste menggelar pemilu bebas pertama dalam 24 tahun -- memilih anggota DPR baru mereka, yang akan bertugas merancang Konstitusi untuk demokrasi baru. Pada 14 April 2002, pemimpin perlawanan Xanana Gusmao, yang telah dibebaskan dari penjara di Indonesia pada 1999, terpilih sebagai Presiden Timor Leste.
 
Pada 20 Mei 2002, dengan pemerintah yang baru terpilih, PBB melepas kendali pemerintahan dan Timor Leste menjadi negara demokrasi terbaru di dunia -- dan negara baru pertama di milenium ketiga.
 
Perayaan meriah di Taci Tolo, di luar Dili.
 
Pada tengah malam bendera baru Timor-Leste dikibarkan, lagu kebangsaan baru dinyanyikan, dan pertarungan panjang Timor Leste untuk merdeka akhirnya selesai.
 
*) Ditulis oleh Jose Ramos-Horta, salah satu pendiri bangsa Timor Leste yang menerima hadiah Nobel Perdamaian 1996; dikutip dari ramoshorta.com.



(FJR)

Imbas Teror Bom Manchester, Chelsea Tunda Parade Juara
Serangan Teror di Kota Manchester

Imbas Teror Bom Manchester, Chelsea Tunda Parade Juara

9 hours Ago

Untuk menghormati mereka yang menjadi korban, manajemen Chelsea akhirnya memutuskan untuk menunda…

BERITA LAINNYA