HIMA: Kami Belum Puas dengan Sikap Indonesia Terkait Rohingya

Sonya Michaella    •    Kamis, 24 Nov 2016 16:46 WIB
konflik myanmar
HIMA: Kami Belum Puas dengan Sikap Indonesia Terkait Rohingya
HIMA PERSIS berunjuk rasa di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, 24 November 2016. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS) melalui Bendahara Umumnya, Ceceng Kholilulloh, mengaku belum puas dengan sikap pemerintah Indonesia terkait kekerasan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar.

"Kami belum puas. Kami melihat belum ada sikap-sikap nyata dari pemerintah untuk Rohingya dan upaya menghentikan pembantaian ini," ungkap Ceceng ketika ditemui di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Kamis (24/11/2016).

Sementara, pimpinan dari HIMA PERSIS sendiri dikatakan sedang berada di Kementerian Sekretaris Negara RI untuk menyampaikan tuntutan masyarakat Indonesia agar kekerasan terhadap Rohingya dihentikan.

"Kami meminta Presiden RI Joko Widodo yang katanya akan mendengarkan aspirasi rakyat dan juga demokrasi, agar membantu Muslim Rohingya yang ditindas di Myanmar," ucapnya.

Jika unjuk rasa dari HIMA PERSIS yang diadakan tepat di depan Kedubes Myanmar ini diabaikan oleh pihak Myanmar, HIMA PERSIS akan melakukan unjuk rasa yang lebih besar lagi.



"Jika Myanmar tak segera menghentikan kejahatan di Rakhine, kami menuntut agar Indonesia memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar," sebutnya.

Sebelum unjuk rasa dari HIMA PERSIS ini terjadi, terlebih dahulu dilaksanakan aksi bela kemanusiaan dari kelompok pegiat HAM, Parade Bhineka.

Berbeda dengan HIMA PERSIS, aksi ini lebih tenang dan mengimbau para masyarakat Indonesia tak menyebarkan konten-konten berupa foto kekerasan dan pembantaian Muslim Rohingya di Rakhine.

Merujuk pada laporan Human Right Watch, melalui satelit jarak jauh, laporan tersebut menunjukkan fakta terjadinya pembakaran rumah dan bangunan di tiga desa di Rakhine.

Beberapa laporan lain menunjukkan adanya pemerkosaan dan perampasan harta benda di sepanjang wilayah Rakhine.

Terjunnya pasukan pemerintah Myanmar ke Rakhine dipicu serangkaian serangan terkoordinasi dan mematikan di pos perbatasan polisi sebulan lalu.


(WIL)