Kesulitan Ekonomi Meningkat Ketika Timor Leste Memilih Presiden

Arpan Rahman    •    Selasa, 21 Mar 2017 10:30 WIB
pemilu timor leste
Kesulitan Ekonomi Meningkat Ketika Timor Leste Memilih Presiden
Warga Timor Leste memberikan hak suara dalam pemilu presiden (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Dili: Rakyat mulai memberi suara dalam pemilihan presiden di Timor Leste, Senin 20 Maret. Dua partai utama didukung para mantan pejuang kemerdekaan mengincar jabatan seremonial di negeri demokrasi termuda di Asia yang berjuang memerangi kemiskinan dan pengangguran kronis.
 
Barisan terbentuk di luar tempat pemungutan suara selagi para pemilih antre untuk memilih satu dari delapan calon yang bertarung dalam pemilihan presiden keempat sejak Timor Leste merdeka dari Indonesia pada 2002.
 
Perhatian utama di antara 1,2 juta penduduk di negara itu adalah kegagalan tersebarnya kekayaan dari pendapatan minyak dan gas, dengan pengangguran berkisar 60 persen.
 
Francisco "Lu Olo" Guterres -- yang didukung oleh partai yang memimpin perjuangan kemerdekaan, Fretilin -- dianggap oleh banyak kalangan sebagai kandidat terkuat. Dia pun disokong oleh pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmao dan partainya CNRT.
 
"Saya ingin mengubah kondisi masyarakat di semua aspek, seperti dalam perawatan kesehatan, pendidikan, dan kehidupan ekonomi yang berkelanjutan," kata Guterres, setelah memberikan suaranya di Ibu Kota Dili, seperti dikutip Straits Times dari Reuters, Selasa 21 Maret 2017.
 
Para analis berpendapat bahwa tantangan bagi setiap pemerintah yang berkuasa, yakni menyapih bangsa yang didominasi penganut Katolik Roma ini dari ketergantungan akan uang minyak dan diversifikasi sumber pendapatan Timor Leste dalam pertanian dan manufaktur.
 
Timor Leste pernah menjadi bagian dari Indonesia sejak 1975. Gerakan perlawanan selama 24 tahun yang diwarnai kekerasan akhirnya mencapai kemerdekaan Timor Leste pada 2002. Banyak tokoh kunci perlawanan yang masih menonjol dalam menjalankan negara.
 
Pemilu kali ini menjadi yang pertama sejak pasukan penjaga perdamaian PBB meninggalkan negara setengah pulau itu pada 2012.


Presiden Timor Leste Jose Maria de Vasconcelos atau dikenal dengan Taur Matan Ruak (Foto: AFP).

 
Kandidat utama lain berasal dari Partai Demokrat, politisi Antonio da Conceicao. Menteri Pendidikan ini sudah mendapatkan dukungan dari partainya sendiri, serta dari Partai Pembebasan Rakyat (PLP) yang baru dibentuk oleh Presiden petahana Jose Maria de Vasconcelos.
 
Keluar dari salah satu TPS, Rita Sera do Carmo, 20 tahun, mengatakan bahwa dia telah memilih da Conceicao. "Dia memiliki rencana yang baik, yang saya percaya bisa membawa negara ini ke masa depan yang lebih baik," katanya.
 
Sementara peran Presiden hanya seremonial, namun juga dilihat sebagai simbol penting untuk mempromosikan persatuan di negara belia ini.
 
Vasconcelos -- yang juga dikenal sebagai mantan gerilyawan dengan julukan Taur Matan Ruak, yang berarti "dua mata tajam" -- diharapkan menjalankan jabatan yang lebih kuat sebagai perdana menteri dalam pemilu parlemen, Juli mendatang.
 
Jika tidak ada yang mendapat lebih dari 50 persen suara, putaran kedua akan digelar bulan depan antara dua kandidat teratas. Hasil pilpres putaran pertama ini diperkirakan akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.

(FJR)