Dakwaan dan Alat Bukti Kasus Siti Aisyah Dinilai Lemah

   •    Minggu, 01 Jul 2018 11:35 WIB
pembunuhan kim jong-nam
Dakwaan dan Alat Bukti Kasus Siti Aisyah Dinilai Lemah
Siti Aisyah digiring polisi setelah didakwa pasal pembunuhan di sebuah pengadilan di Sepang, Malaysia, 1 Maret 2017. (Foto: AFP/MOHD RASFAN)

Shah Alam: Persidangan Siti Aisyah (SA) dalam kasus dugaan pembunuhan Kim Jong-nam berlanjut di Pengadilan Shah Alam pada 27 dan 28 Juni. Agenda persidangan kali ini adalah penyampaian argumentasi lisan pengacara Siti Aisyah dan tanggapannya dari Jaksa Penuntut Umum.

Pengacara Siti Aisyah, Gooi Soon Seng, mengatakan bahwa penyelidikan yang dilakukan Investigation Officer (IO) tidak kredibel dan menyebabkan kliennya tidak dapat membela diri dengan adil. Dakwaan, saksi serta alat bukti yang disodorkan JPU juga lemah sehingga menimbulkan keraguan wajar (reasonable doubt).

Oleh karena itu, pengacara Siti Aisyah menilai bahwa Prima Facie (dasar argumen dakwaan) dalam kasus ini tidak ada.

Dalam keterangan tertulis Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhamad Iqbal yang diterima Medcom.id, Minggu 1 Juli 2018, terdapat beberapa kelemahan dalam kasus Siti Aisyah berdasarkan keterangan pengacara.

Kelemahan itu antara lain JPU hanya tergantung pada kamera CCTV yang tidak jelas menggambarkan dakwaan; terdapat sejumlah kesaksian yang saling bertentangan; perlakuan terhadap barang bukti tidak sesuai prosedur; pada kaos yang dijadikan barang bukti tidak ada DNA SA; SA tidak terbukti memiliki motif/mens rea; SA tidak memiliki niat bersama ( common intention ) dengan DTH maupun 4 terdakwa WN Korut yang masih buron; beberapa perkara penting tidak diselidiki IO(HP, akun FB SA, dll); dan penyelidikan tidak lengkap.

Baca: Pengacara Siti Aisyah: Tuduhan Pengadilan Tak Jelas

JPU menangapi argumentasi lisan di persidangan hari berikutnya. JPU kembali menyampaikan pandangannya, bahwa SA adalah pembunuh terlatih dan sadar mengenai apa yang sudah dilakukannya terhadap Kim Jong-nam. Ia juga disebut terbukti melakukan criminal force yang menyebabkan kematian.

Tidak hanya itu, JPU menyatakan dalam kasus ini motif/mens rea tidak penting karena SA sadar mengenai apa yang dilakukan serta konsekuensinya terhadap Kim Jong-nam di Bandara Kuala Lumpur pada 13 Februari 2017.

Sementara itu pengacara dari Doan Thi Huong, yang juga berstatus tersangka dalam kasus ini, mendukung seluruh argumen kuasa hukum SA. Pengacara Doan menilai tidak ada Prima Facie dalam kasus ini.

Persidangan akan dilanjutkan pada Kamis 16 Agustus mendatang dengan agenda penyampaian Putusan Sela Hakim mengenai ada tidaknya Prima Facie.

Jika Hakim memutuskan ada Prima Facie, maka sidang akan berlanjut dengan pembelaan dan pemeriksaan saksi atau bukti yang diajukan kedua Kuasa Hukum. 

Sebaliknya jika Hakim memutuskan tidak ada Prima Facie, maka persidangan di tahap Mahkamah Tinggi akan berakhir dan SA maupun DTH dibebaskan, sepanjang jaksa tidak mengajukan banding ke Mahkamah Rayuan di Putera Jaya.


(WIL)