Kurangnya Pengendalian Mutu Bisa Buat Produk Indonesia Kalah di ASEAN

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 26 Oct 2017 23:41 WIB
asean-uni eropa
Kurangnya Pengendalian Mutu Bisa Buat Produk Indonesia Kalah di ASEAN
Batik tulis (Foto:Antara/Aditya Pradana Putra)

Metrotvnews.com, Bogor: Indonesia selalu menyebut kopinya paling enak dengan kualitas sempurna, namun ternyata tidak sesempurna itu. Project Manager ASEAN Foundation Yacinta Jati menuturkan quality control di Indonesia kurang sehingga bisa dikalahkan negara lain di ASEAN.

"Mungkin Indonesia mengatakan 'kopi kita paling bagus di antara negara lain', tapi kalau petani kita ketemu petani Myanmar atau Thailand, mereka bisa bilang, 'enggak juga kok, produk kita lebih unggul'," ujarnya saat ditemui usai diskusi kelompok petani muda antarnegara ASEAN, di Institut Pertanian Bogor, Kamis 26 Oktober 2017.

"Kenapa bisa demikian? Karena mereka disokong dan mereka ada kemauan untuk belajar dalam proses-proses seperti ini. Sementara petani kita mereka hanya tahu cara menanam dan memetiknya, namun tidak tahu pasarnya seperti apa. Dalam artian, quality controlnya tidak ada," imbuh dia.

Yacinta menuturkan Indonesia harus bisa melihat pertukaran pikiran dan pembelajaran ini sebagai kesempatan. Pasalnya dalam forum ini, para petani bisa bertukar pikiran dan cara mereka mengelola dan memasarkannya.

Tukar pikiran yang seperti itu menjadi mimpi ASEAN Foundation ke depannya. Dia menambahkan ambisi ASEAN 2025 mengenai integrasi wilayah, pertukaran nilai, single market, dan lain sebagainya harus segera diperkenalkan kepada petani.

"Petani Indonesia sebelumnya sudah sadar belum sih kalau ini kompetisi? Itu yang harus kita beritahu. Meskipun ini kompetisi, namun kita bisa bersama mencapai tujuan yang diinginkan," lanjut dia.

Di zaman yang semakin modern, tidak mungkin Indonesia bisa berkompetisi dengan cara tradisional. Karenanya dia mengajak para petani untuk belajar berinovasi dalam mengelola produk hasil komoditas mereka.

Salah satu caranya dengan mengajak para petani ini belajar di kebun buah naga yang dikelola mahasiswa IPB. Mereka juga diberikan presentasi dari ahlinya, Robert yang merupakan pencetus Java Fresh Company.

Oleh Robert, para petani ini diajarkan untuk inovatif dalam menjual produk pertanian atau peternakan mereka. Dia sendiri telah memasarkan manggis, sebagai buah tropis asli Indonesia ke berbagai pasar di Eropa, salah satunya Prancis.

Produknya dikemas dalam kemasan unik, namun higienis dan menjadi incaran para warga Prancis.



(WAH)