Nama Pengusaha dan Tokoh RI Muncul di Paradise Papers

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 06 Nov 2017 12:37 WIB
panama papersparadise paper
Nama Pengusaha dan Tokoh RI Muncul di Paradise Papers
Ilustrasi dokumen rahasia. (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah dunia dihebohkan dengan Panama Papers tahun lalu, sebuah dokumen baru berisi jutaan data terkait berbagai perusahaan dan politikus serta pengusaha global kembali muncul ke publik. Data-data yang bocor itu diberi nama Paradise Papers.

Paradise Papers merupakan penyelidikan global terhadap aktivitas mencurigakan sejumlah perusahaan dan tokoh berpengaruh di dunia. Konsorsium Investigasi Internasional dan 95 mitra media mengeksplorasi 13,4 juta data bocor dari para penyedia layanan offshore.

Beberapa nama pengusaha dan pejabat di Indonesia juga ikut terseret dalam Paradise Papers. Kebanyakan dari mereka 'membuang pajak' ke wilayah 'bebas pajak.'

Data-data tersebut kembali didapatkan surat kabar Jerman Suddeutsche Zeitung, yang dulu juga mendapatkan Panama Papers. 

Panama Papers dan Paradise Papers kemudian dibagikan oleh Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi (ICIJ) dan beberapa mitra seperti Guardian, BBC dan New York Times.

Dokumen Paradise Papers mencakup hampir 7 juta perjanjian pinjaman, laporan keuangan, surat elektronik (surel) dan dokumen lainnya dari hampir 50 tahun di Appleby, sebuah firma hukum offshore terkemuka yang memiliki kantor di Bermuda dan sekitarnya.

Secara keseluruhan, berkas Paradise Papers mengekspos kepemilikan offshore para pemimpin politik dan pemodal, serta perusahaan yang memangkas pajak melalui transaksi yang dilakukan secara rahasia. Dikutip situs ICIJ, Minggu, 5 November 2017, transaksi para miliarder dan selebritis juga terungkap dalam dokumen tersebut.

Anggota kabinet Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, penasihat dan donor, termasuk pembayaran substansial dari perusahaan yang dimiliki bersama menantu Presiden Rusia, Vladimir Putin, muncul dalam Paradise Papers

Penerbitan dokumen ini, yang dilakukan lebih dari 380 wartawan dan menghabiskan waktu hingga satu tahun, muncul saat ketimpangan pendapatan global meningkat. Mereka menghabiskan waktu lama untuk menyisir data yang membentang sejak 70 tahun lalu hingga kini.

Sementara itu, perusahaan multinasional menggeser pangsa keuntungan yang tumbuh di luar negeri. Ekonom terkemukan Gabriel Zucman akan mengungkapkan sebuah penelitian yang akan diterbitkan akhir pekan ini.

"Surga pajak adalah salah satu mesin kunci dari kenaikan ketidaksetaraan global. Karena ketidaksetaraan itu meningkat, penghindaran pajak di luar negeri menjadi kebiasaan para elite," ungkapnya.


(WIL)