Thailand Awasi Ketat Internet usai Mangkatnya Raja Bhumibol

Arpan Rahman    •    Rabu, 19 Oct 2016 18:26 WIB
raja thailand
Thailand Awasi Ketat Internet usai Mangkatnya Raja Bhumibol
Mata uang baht bergambar Raja Bhumibol Adulyadej terlihat di jalanan kota Bangkok, 18 Oktober 2016. (Foto: AFP/MANAN VATSYAYANA)

Metrotvnews.com, Bangkok: Pasukan "pengintai siber" Thailand telah menandai sejumlah situs jejaring internet atas dugaan pencemaran nama baik kerajaan sejak mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej.

Seperti disitat Daily Mail dari laporan AFP, Rabu (19/10/2016), pasukan juga memantau semua saluran komunikasi di Thailand.

Aturan keras ini telah diberlakukan sejak kematian raja pada Kamis 13 Oktober. Bangsa Siam tenggelam dalam duka sang raja tercinta tiada. 

Monarki Thailand dilindungi hukum "lese majeste" yang ketat, melarang kritik dan diskusi terperinci tentang monarki -- termasuk oleh semua media yang berbasis di Thailand.

Pengawasan oleh otoritas rutin dilakukan, dan setelah kematian raja, intensitasnya ditingkatkan. Polisi mengatakan sudah mendapat beberapa pengaduan terkait leste majeste Seksi 112 -- yang secara luas dikenal sebagai hukum pencemaran nama baik kerajaan dengan ancaman hingga 15 tahun penjara atas setiap pelanggaran -- sejak raja mangkat.

Namun jumlah kasus mungkin meningkat karena otoritas menjelajahi internet untuk mencari pelanggaran hukum lainnya. "Selama ini kami mengoperasikan pusat-pusat untuk memantau 24 jam sehari," kata Prajin Jantong, wakil perdana menteri, kepada wartawan.

"Kami memantau semua saluran, situs jaringan, semua saluran komunikasi termasuk LINE," tambahnya, mengacu pada aplikasi berbasis pesan yang banyak digunakan warga Thailand.

Menurut Jantong, pada 14 Oktober petugas menemukan 52 situs yang dianggap telah melanggar hukum. Sehari berikutnya, 61 situs ditandai. 

Beberapa situs telah ditutup lewat otoritas khusus yang diberikan kepada junta. "Jika masyarakat melihat jenis-jenis situs tertentu, mereka harus memberitahu pihak berwenang kalau mereka tidak suka atau membagikannya pada kami," kata Prajin, yang mengatakan beberapa situs itu dijalankan dari luar negeri.

Lese Majeste


PM Thailand Prayuth Chan-ocha. (Foto: AFP)

Tuntutan lese majeste telah melonjak di bawah pemerintah militer yang merebut kekuasaan dua tahun lalu, bahkan memecahkan rekor hukuman yang dijatuhkan dalam beberapa kasus. 

Thailand larut dalam kesedihan setelah kematian raja. Masyarakat Thailand memakai busana hitam, dan sejauh ini mematuhi perintah untuk mengurangi intensitas kehidupan malam dan acara hiburan.

Tapi kekhawatiran tentang perburuan majeste lese telah merebak sejak kematian raja. Lima video telah menayangkan insiden amuk massa terhadap orang-orang yang diduga telah menghina monarki.

Contoh terbaru dari mafia peradilan itu muncul di Facebook pada Selasa 18 Oktober pagi. Dalam video terlihat seorang pria diseret, ditendang, dan dipaksa bersujud di depan potret raja lantaran diduga menghina monarki dalam media sosial.

Di hari yang sama, Menteri Kehakiman Paiboon Koomchaya mendesak Thailand memberlakukan "sanksi sosial" bagi mereka yang mencemarkan nama baik monarki.

Selang sehari, junta mengirimkan pesan bernada damai. "Perdana Menteri (Prayuth Chan-ocha) marah atas video klip serangan itu," kata juru bicara junta, Sansern Kaewkamnerd, kepada wartawan. "Menyerang orang akan merusak citra kita di mata orang asing," pungkasnya.




(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA