Korut Dilanda Banjir, Lebih dari 600 Ribu Warga Terkena Dampak

Sonya Michaella    •    Selasa, 04 Oct 2016 08:54 WIB
korea utara
Korut Dilanda Banjir, Lebih dari 600 Ribu Warga Terkena Dampak
Puluhan ribu rumah hancur parah akibat banjir di Korut (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Pyongyang: Setidaknya lebih dari 600 ribu warga Korea Utara (Korut) terkena dampak banjir besar dan sekitar 30 ribu rumah rusak dan hancur parah. 

"Bencana itu terjadi mungkin di saat yang paling buruk," kata Kepala Delegasi Komunitas Federasi Palang Merang Internasional dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Chris Staines di Korut, seperti dikutip Reuters, Selasa (4/10/2016).

IFRC bekerja sama dengan Komunitas Palang Merah Korut untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat di wilayah timur laut Korut yang menderita akibat banjir paling parah karena hujan lebat di akhir Agustus lalu.

Staines menjelaskan bahwa 'tindakan darurat' harus dilakukan sebelum salju mulai turun pada akhir Oktober mendatang.

Ketika salju turun, temperatur akan berada di bawah nol derajat Celcius dan bisa mencapai minus 30 derajat Celcius di pertengahan musim dingin.



"Ini merupakan kondisi serius dan kita butuh solusi permanen dalam hal tempat perlindungan, layanan kesehatan dan akses terhadap makanan, serta menyelesaikan masalah soal air bersih," lanjutnya.

IFRC telah mengeluarkan bantuan sebesar USD15,6 juta atau sekitar Rp202,8 miliar bagi sekitar 300.000 orang selama 12 bulan ke depan.

Sebelumnya, mereka pun merilis video yang diambil pekan lalu di Provinsi Hamgyong Utara, di mana memperlihatkan bangunan rusak dan orang-orang yang terpaksa tinggal di tempat perlindungan sementara.

Badan PBB bidang Koordinasi Urusan Kemanusiaan, OCHA, mengatakan pada pertengahan September,  menurut data pemerintah Korut, sebanyak 133 orang tewas dan 395 orang hilang akibat banjir.

Korut memang sangat rentan bencana alam, terutama banjir, karena penghijauan dan penataan infrastruktur yang buruk.

Namun di tengah situasi bencana seperti ini, pemerintah Korut malah mengeluarkan dana yang tak kecil untuk mengembangkan program nuklirnya.



(WIL)