Korut Sebut Sanksi Internasional dapat Menyakiti Wanita dan Anak-Anak

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 09 Nov 2017 15:20 WIB
korea utara
Korut Sebut Sanksi Internasional dapat Menyakiti Wanita dan Anak-Anak
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un bersama anak-anak (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jenewa: Korea Utara (Korut) menurutkan bahwa pihaknya bekerja untuk menegakkan hak perempuan dan kesetaraan gender. Namun, sanksi yang diberlakukan negara-negara besar terhadap mereka malah memberi dampak bagi keluarga menengah ke bawah.
 
Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Korut untuk PBB di Jenewa, Han Tae Song. Song juga mendesak Korea Selatan (Korsel) untuk mengembalikan 12 pelayan yang 'diculik' saat bekerja di Tiongkok pada April 2016. Dia menyebut tindakan itu sebagai kajahatan terhadap kemanusiaan.
 
Sementara itu, Seoul membalas pernyataan itu dengan mengatakan bahwa 12 wanita tersebut memilih membelot ke negaranya.
 
"Amerika Serikat (AS) dan kekuatan musuh lain menghalangi kebahagiaan rakyat kita dengan membatasi hak asasi mereka. Segala cara dilakukan untuk melumpuhkan gagasan dan sistem di negara kami dengan sanksi-sanksi yang mereka berikan," ungkapnya pada Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan di Jenewa, seperti dilansir dari laman Channel News Asia, Kamis, 9 November 2017.
 
Dia menuturkan Washington telah 'memanipulasi' resolusi sanksi terhadap negaranya di Dewan Keamanan PBB yang melanggar kedaulatan Pyongyang dan hak atas keberadaan serta pembangunan.
 
"Karena sanksi ekonomi yang tidak manusiawi ini, masyarakat yang rentan seperti perempuan dan anak-anak menjadi korban. Sanksi semacam itu berat bagi kemanusiaan, karena menghambat pengiriman peralatan medis dan obat-obatan untuk kesehatan ibu dan anak, dan barang dasar untuk kehidupan sehari-hari," imbuhnya.
 
Sanksi-sanksi diberikan kepada Korut akibat uji coba rudal dan program nuklir yang mereka lakukan. AS dan Jepang merupakan negara yang paling ngotot agar Korut dijatuhi sanksi.
 
Dalam tur Asia selama lebih dari 10 hari ini, Presiden AS Donald Trump bahkan meminta kepada negara-negara yang dikunjunginya untuk memberikan sanksi lebih berat lagi. Bahkan, dalam kunjungannya ke Tiongkok, Trump meminta pada Presiden Xi Jinping untuk memutuskan hubungan finansial dengan Pyongyang.



(FJR)