Indonesia Tak Perlu Turut Campur Masalah Dalam Negeri Myanmar

Fajar Nugraha    •    Kamis, 24 Nov 2016 18:41 WIB
konflik myanmar
Indonesia Tak Perlu Turut Campur Masalah Dalam Negeri Myanmar
Rumah warga di Rakhine yang dibakar (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Depok: Krisis kemanusiaan yang terjadi di Rakhine, Myanmar menarik perhatian banyak pihak. Indonesia dinilai belum perlu turut campur dalam masalah ini.
 
Peneliti Wahid Center Dewi Hermawati Resminingayu menilai Indonesia belum perlu menerapkan prinsip interferrence atau mencampuri apa yang tengah terjadi di Myanmar. 


Dewi Hermawati Resminingayu (jilbab merah muda) dalam sebuah seminar di UI (Foto: Metrotvnews.com).

 
Menurut Dewi, isu kemanusian di Asia Tenggara sudah lama terjadi, salah satu rohingya. "Sementara untuk interferrence (ikut campur), belum ya. Belum saatnya untuk memaksa interferrence," ujar Dewi, dalam seminar 'Human Development Partners in the ASEAN Community' International Public Lecture FISIP HI Universitas Indonesia, di Depok, Jawa Barat, Kamis (24/11/2016).
 
"Karena ada aturan sebuah negara untuk mencampuri urusan negara lain. Apakah ada aksi riil yang akan diberikan Indonesia. Kalau mau ikut campur seperti apa. Kesiapannya bagaimana?," tegasnya.
 
Ketika bermaksud untuk mencampuri apa yang terjadi di Myanmar, khususnya yang dialami oleh etnis Rohingya, menurut Dewi perlu juga mengambil sikap. Maunya indonesia ini melihat prinsip ikut campur ini dari segi apa? Apakah mau dilihat dari segi bahwa ini isu keagamaan atau isu keawarganegaraan atau isu yang lain?.
 
"Jadi perlu ada inisiasi pengambilan sikap, perlu juga tahu akal sehatnya gimana dan juga kesiapaannya. untuk saat ini sepertinya belum perlu (interferrence)," pungkasnya.
 
Indonesia tidak tinggal diam melihat keadaan etnis Rohingya
 
Sebelumnya Menlu Retno Marsudi menegaskan Indonesia tak tinggal diam dengan keadaaan suku Rohingya di Myanmar. Indonesia sudah berdiplomasi agar Myanmar menyelesaikan konflik dengan suku muslim tersebut.
 
Menurut Retno, sejak dari dulu Pemerintah Indonesia selalu berhubungan Pemerintah Myanmar memberikan bantuan pembangunan kapasitas.
 
 
Menurut mantan Dubes RI untuk Belanda itu, banyak bantuan teknis terkait isu-isu besar untuk kebutuhan Myanmar yang sudah diberikan Indonesia. Bantuan itu, kata dia, fokus di Negara Bagian Rakhine yang merupakan domisili suku Rohingya.
 
Retno juga mengungkapkan bahwa Indonesia selalu berbagi informasi bahwa kita pernah menghadapi situasi yang sama dengan Myanmar. Tetapi Indonesia menekankan bisa mentransformasikan diri menjadi sebuah negara yang demokratis.
 
Selain itu, Kementerian Luar Negeri RI juga sudah memanggil Dubes Myanmar untuk Indonesia pada Senin 21 November. Pemanggilan dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait kondisi terkini di Rakhine.
 
Suu Kyi dalam sorotan
 
Tokoh nomor satu di Myanmar Aung San Suu Kyi masih bungkam terkait aksi kekerasan militer terhadap Muslim Rohingya di wilayah Rakhine. Bungkamnya Suu Kyi diikuti gelombang kritik dari sejumlah lembaga hak asasi manusia.
 
Laporan Human Rights Watch (HRW) menunjukkan sebanyak 1.250 rumah warga Rohingya di lima desa di Rakhine rata dengan tanah akibat hancur terbakar atau ambruk karena serangan militer. (Baca: Bungkam soal Pembantaian Rohingya, Suu Kyi Dikecam). 
 
Sementara lebih dari 100 Muslim Rohingya tewas dan 30 ribu lainnya melarikan diri akibat serangan ini. Muslim Rohingya pun berusaha menyeberang ke perbatasan Bangladesh, namun dicegat dan ditembaki militer Myanmar.
 
Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penerapan HAM di Myanmar, Yanghee Lee, mengkritik sikap Suu Kyi terhadap krisis di negaranya. Ia menuntut adanya investigasi terkait tudingan aksi pembantaian warga Rohingya oleh militer Myanmar. 
 
Lee menngatakan bahwa Aung San Suu Kyi, menyatakan Pemerintah Myanmar merespons situasi ini berdasarkan hukum yang berlaku. Namun, dirinya tidak melihat adanya upaya dari sisi pemerintah untuk menyelidiki soal tuduhan pelanggaran HAM dalam kejadian ini.
 
Lee mendesak pemerintah Suu Kyi segera bertindak dan melindungi warga sipil Rohingya. Lee juga menyesalkan tindakan pembantaian dilakukan aparat militer Myanmar.  
?
 


(FJR)