Shinzo Abe Diperkirakan Unggul dalam Pemilu Jepang

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 21 Oct 2017 10:47 WIB
politik jepang
Shinzo Abe Diperkirakan Unggul dalam Pemilu Jepang
PM Jepang Shinzo Abe diperkirakan akan kembali menang dalam pemilu (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Tokyo: Jelang pemilihan umum Jepang pada Minggu 22 Oktober 2017, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe diperkirakan akan kembali unggul.
 
Para kandidat pada Sabtu 21 Oktober ini tengah melakukan kampanye terakhir untuk menarik dukungan dari warga.
 
PM Abe diperkirakan akan kembali berkuasa. Poling menunjukkan bahwa Abe dan Partai Liberal Demokratik (LDP) menjadi unggulan dalam pemilu. Jika menang, Abe akan meneruskan kebijakan terhadap Korea Utara (Korut) dan strategi 'Abenomics'.

(Baca: Hadapi Tantangan Gubernur Tokyo, PM Jepang Percepat Pemilu).
 
Surat kabar Nikkei, Sabtu 21 Oktober 2017 mengatakan, koalisi yang dipimpin oleh LDP dalam jalur kemenangan merebut 300 dari 465 kursi majelis rendah parlemen. 
 
Jika hasil poling ini benar, maka politikus berusia 63 tahun itu akan berada di jalur tepat menjadi Perdana Menteri Jepang yang berkuasa paling lama, setelah masa perang. 
 
Adapun lawan Abe difokuskan kepada dua partai oposisi yakni 'Partai Harapan' yang dibuat oleh Gubernur Tokyo, Yuriko Koike dan Partai Demokratik Konstitusional. Masing-masing diperkirakan memenangkan 50 suara.
 
Abe mengejutkan Jepang pada awal Oktober ini dengan melakukan pemilu satu tahun lebih cepat dari jadwal. Alasan percepatan pemilu ini menurut Abe dipicu oleh dua krisis nasional yaitu, populasi yang menua dan sikap provokasi dari Korut.
 
Pemerintah Korut mengancam akan menenggelamkan Jepang ke laut dan melepaskan tembakan dua misil ke Pulau Hokkaido. 
 
Abe pun langsung bereaksi keras. Dia menegaskan bahwa dunia internasional harus memberikan tekanan maksimum terhadap pemerintahan Korut.
 
Beberapa kali dalam kampanyenya Abe menyebutkan bahwa Jepang tidak boleh takut akan ancaman Korut. Patut diperhatikan hasil pemilu Jepang kali ini. Siapapun pemimpin Jepang, Korut akan menjadi isu utama karena dianggap mengancam keamanan kawasan.
 

 
(FJR)