Duterte Acungkan Jari Tengah ke Uni Eropa

Willy Haryono    •    Rabu, 21 Sep 2016 16:12 WIB
filipina
Duterte Acungkan Jari Tengah ke Uni Eropa
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kanan) bersama penasihatnya, Jesus Dureza, di kota Davao, 18 September 2016. (Foto: AFP/PPD)

Metrotvnews.com, Davao: Presiden Rodrigo Duterte melontarkan pernyataan dan gestur kasar terhadap Uni Eropa. Ini merupakan aksi terbaru Duterte di tengah gelombang kritik internasional terhadap kebijakan perang melawan kejahatan narkotika di Filipina. 

Duterte melayangkan ejekannya dengan gestur kasar -- mengacungkan jari tengah -- setelah Parlemen Eropa mengutuk "gelombang eksekusi dan pembunuhan di luar jalur hukum di Filipina."

"Saya bilang kepada mereka, persetan kalian semua. Anda melakukan itu (kritik terhadap Filipina) sebagai penebusan dosa kalian sendiri," ujar Duterte di hadapan para pejabat lokal di kota Davao, yang direkam media ABS-CBN, Selasa (20/9/2016) malam waktu setempat. 

Pemimpin berusia 71 tahun itu bertindak serupa saat Amerika Serikat (AS) mengkritik kebijakan melawan kejahatan narkoba. Ketika itu, Duterte mengejek Presiden Barack Obama dengan sebutan "anak pelacur." Ia juga menghina Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dianggapnya justru melanggar hak asasi manusia. 

Memenangkan pemilihan umum presiden pada Mei lalu, Duterte pernah berjanji akan menumpas kejahatan narkoba di negaranya dalam kurun waktu enam bulan. Belakangan, Duterte meminta perpanjangan waktu karena dirinya tak menyangka masalah narkoba di Filipina sudah begitu parah.

Sejak resmi menjadi presiden pada 30 Juni, sekitar 3.000 orang tewas di bawah kebijakannya menghabisi kejahatan narkoba. Sekitar satu per tiga dari jumlah tersebut tewas ditembak polisi, dan sisanya oleh orang tak dikenal. 


Warga melihat lokasi penembakan pengedar narkoba oleh polisi di Filipina. (Foto: AFP)

Pekan lalu Parlemen Uni Eropa mengaku khawatir dengan "tingginya angka kematian selama operasi kepolisian di Filipina dalam konteks melawan narkoba." "Duterte harus mengakhiri gelombang eksekusi dan pembunuhan di luar jalur hukum dan melancarkan investigasi (terhadap kebijakan itu)," demikian tertulis dalam sebuah resolusi Uni Eropa. 

Menyebut Prancis dan Inggris, Duterte mengatakan anggota parlemen Uni Eropa adalah kumpulan negara "munafik," karena pada zaman kolonial, kedua negara itu membunuh "ribuan" Arab dan etnis lainnya. 

"Mereka mengkritik untuk menutupi rasa bersalah mereka. Memang siapa yang saya bunuh? Jumlahnya 1.700, jika itu memang benar, mereka itu siapa? Mereka itu kriminal. Anda menyebut itu genosida?" ungkap Duterte. 

"Sekarang Uni Eropa sudah berani mengutuk saya. Saya akan ulangi sekali lagi, persetan dengan kalian semua," sambung Duterte sambil mengacungkan jari tengah.


(WIL)