Spesies Baru Orangutan di Tapanuli Terancam Punah

Arpan Rahman    •    Selasa, 07 Nov 2017 11:57 WIB
satwa
Spesies Baru Orangutan di Tapanuli Terancam Punah
Saat ini populasi Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800. (Foto: Konservasi Orangutan Sumatra/AFP/JONAS LANDOLT)

Metrotvnews.com, Jakarta: Populasi kecil orangutan berambut keriting di pulau Sumatra kemungkinan besar adalah spesies baru primata, lapor sejumlah ilmuwan.

Tapi jenis terbaru dari silsiah famili hewan cerdas ini, dinamakan Pongo tapanuliensis, kemungkinan tidak dapat hidup dalam waktu lama. Jumlah mereka sangat kecil, dan habitatnya pun terfragmentasi sehingga terancam punah.

Sebuah studi yang diterbitkan pekan lalu di jurnal Current Biology menyebutkan, saat ini populasi Pongo tapanuliensis tidak lebih dari 800. Hal ini menjadikannya sebagai spesies kera besar paling terancam punah.

Para periset mengatakan populasi primata tersebut sangat rentan berkurang akibat terkena imbas pembangunan yang dilakukan masyarakat sekitar.

"Jika langkah-langkah tidak diambil dengan cepat demi mengurangi ancaman saat ini, maka kepunahan spesies kera besar akan terjadi," ujar tim studi yang meneliti Pongo tapanuliensis.

Pongo tapanuliensis merupakan spesies kera besar pertama yang ditemukan ilmuwan sejak hampir 90 tahun terakhir. Sebelumnya, sains telah mengenali enam spesies kera besar: orangutan Sumatera dan orangutan Borneo, gorila timur dan barat, simpanse dan bonobos. 

Primatologis Russell Mittermeier, kepala grup spesialis primata di International Union for the Conservation of Nature (IUCN), menyebut temuan itu sebagai "penemuan luar biasa" yang menempatkan tanggung jawab pada pemerintah Indonesia demi memastikan spesies tersebut dapat bertahan hidup.

Mittermeier, yang bukan salah satu dari 37 penulis penelitian tersebut, mengatakan bahwa dia "sangat bersemangat" dengan penelitian ini.



Tahun lalu, IUCN mengelompokkan orangutan Borneo sebagai yang terancam punah karena penurunan populasi yang tajam akibat kerusakan habitat. Sebagian wilayah tempat tinggal mereka dijadikan perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp. Orangutan Sumatera sudah berstatus terancam sejak 2008.

Matthew Nowak, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan bahwa orangutan Tapanuli hidup di tiga kantong hutan yang dipisahkan kawasan non-hutan lindung.

"Agar spesies dapat bertahan di masa depan, ketiga fragmen tersebut perlu dihubungkan kembali melalui koridor hutan," katanya, seperti disitir Indiana Gazette, Minggu 5 November 2017.

Selain itu, penulis merekomendasikan agar rencana pembangunan di kawasan ini, termasuk pembangkit tenaga air dihentikan pemerintah.

"Sangat penting bahwa semua hutan yang tersisa dilindungi dan bahwa badan pengelola lokal bekerja guna menjamin perlindungan ekosistem Batang Toru," kata Novak.

Wiratno, direktur jenderal konservasi sumber daya alam dan ekosistem di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia, mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Jakarta bahwa sebagian besar hutan Batang Toru ditetapkan sebagai hutan lindung pada Desember 2015.

Dia berkata, jajarannya akan menjadikan itu prioritas dan merupakan "tantangan besar." "Kami sangat berkomitmen menjaga kelangsungan hidup spesies ini," kata Wiratno.


(WIL)