Indonesia Masih Kurang Lindungi Anak Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 10 Oct 2017 13:56 WIB
asean
Indonesia Masih Kurang Lindungi Anak Perempuan Korban Kekerasan Seksual
Penelitian ini dilakukan bersama lima negara lainnya di ASEAN, yaitu Kamboja, Thailand, Filipina, Brunei dan Myanmar. (Foto:MTVN/Marcheilla)

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga Masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan anak-anak dan perempuan mengeluhkan masih kurangnya aksi pemerintah dalam melindungi anak perempuan korban kekerasan perempuan. Hal ini kemudian mendorong lembaga peduli anak korban kekerasan seksual anak Kalyanmitra dengan beberapa lembaga untuk melakukan penelitian demi mendorong akses keadilan untuk anak perempuan dalam kasus kekerasan seksual dan upaya advokasi di ASEAN.

Bekerja sama dengan lembaga masyarakat di enam negara ASEAN, yang tergabung dalam Weaving Women's Voices in ASEAN (WAVE), Kalyanmitra melakukan penelitian sejak 2016 silam. 

Rena Herdiyani, selaku peneliti dari Indonesia mengaku masih kurangnya kebijakan dan mekanisme hukum yang diberikan kepada korban kekerasan seksual, khususnya anak perempuan. Dia menuturkan, tujuan penelitian yang dilakukan tersebut untuk mengkaji kasus kekerasan seksual terhadap anak.

"Kami juga mengembangkan rekomendasi ke ASEAN untuk meningkatkan akses terhadap keadilan bagi perempuan dan anak, terutama dalam kasus kekerasan seksual," ujar Rena, saat ditemui di Hotel Aone, Jakarta, Selasa 10 Oktober 2017.

Penelitian tersebut didorong dari kebutuhan untuk melihat masalah kekerasan seksual terhadap anak perempuan di Asia Tenggara. Sementara itu, inti dari penelitian adalah agar anak-anak korban kekerasan seksual mendapatkan hak perlindungan mereka dari segi hukum oleh pemerintah dan institusi terkait.

Penelitian dilakukan dengan studi kasus sebanyak 20 kali pada korban dengan rentang usia 7 hingga 17 tahun. Menurut Rena, dari hasil penelitian bersama tersebut, terungkap tidak ada data kekerasan seksual yang spesifik terhadap anak perempuan di enam negara tersebut, termasuk Indonesia.

"Di Indonesia, data yang dimiliki KPAI tidak dipilah jenis kelaminnya. Dan tidak ada definisi khusus tentang anak perempuan, baik di HAM regional maupun di peraturan perundangan enam negara tersebut," ujarnya.

Rena mengaku kebanyakan hukum pidana hanya berpihak kepada korban pemerkosaan, bukan kekerasan seksual semata. Padahal, menurut dia, kekerasan seksual kepada anak perempuan dapat menimbulkan trauma tersendiri pada anak tersebut.

Penelitian ini dilakukan bersama lima negara lainnya di ASEAN, yaitu Kamboja, Thailand, Filipina, Brunei dan Myanmar. Nantinya, hasil penelitian tersebut akan diserahkan ke ASEAN People's Forum di Manila pada pertengahan November mendatang. 


(WAH)