Bocah Rohingya Jadi Ojek Payung untuk Hidupi Keluarga

Arpan Rahman    •    Sabtu, 11 Nov 2017 13:00 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Bocah Rohingya Jadi Ojek Payung untuk Hidupi Keluarga
Seorang bocah pengungsi menggunakan payung di kamp Kutupalong, Bangladesh, 19 September 2017. (Foto: AFP/DOMINIQUE FAGET)

Metrotvnews.com, Cox's Bazar: Nur Hafes, bocah berusia 12 tahun, biasanya menghabiskan waktu sehari-hari dengan bersekolah atau bermain sepak bola dengan teman-temannya di Myanmar.

Namun kini, dia harus berdiri di pinggir jalan di kamp pengungsi Palongkhali, Bangladesh selatan, demi mendapatkan uang untuk keluarga.

Pencari nafkah utama di keluarganya, Nur harus menghidupi tujuh adik laki-laki dan ibunya sejak mereka tiba di Cox's Bazar dua bulan lalu. Ia menghabiskan waktunya menunggu para ulama yang mendistribusikan uang sedekah masjid untuk para pengungsi. 

Di sela waktu luangnya, Nur menawarkan payung berwarna cokelat untuk menaungi para pengunjung dari terik matahari atau hujan. Dengan menjadi ojek payung, Nur berharap bisa menghasilkan uang tambahan untuk membeli makanan dan kebutuhan keluarga.

"Terkadang saya mendapat 50 atau 100 Taka. Tapi beberapa hari ini saya pulang dengan tangan hampa," gumam Nur. Tangannya memegangi selembar uang 50 taka (setara Rp8 ribu) yang dia terima dari seorang penawar jasa.



Nur dan keluarganya adalah satu dari sekitar 600 ribu pengungsi asal Rakhine yang kebanyakan adalah etnis Rohingya. Mereka melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus lalu demi menghindari operasi perburuan militan oleh militer Myanmar. Aksi Myanmar dilakukan untuk membalas serangan militan Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA ke pos-pos keamanan pada 25 Agustus.

PBB menuduh tindakan militer di negara bagian Rakhine di Myanmar utara sebagai "pembersihan etnis." Tuduhan itu disangkal keras Myanmar.

Keluarga Nur meninggalkan rumah mereka di desa Tharay Kone Yoe, kota Maungdaw, negara bagian Rakhine, saat kekerasan terbaru meletus. "Tentara Myanmar membakar rumah-rumah dengan orang-orang di dalamnya," kata ibu Nur, Rabia Khatun.

"Saya melihat banyak orang dengan luka tembak dan mendengar suara berderak rumah terbakar," serunya, seperti disitat Dhaka Tribune, Sabtu 11 November 2017.

Dia mengumpulkan beberapa barang -- selimut untuk melindungi anak-anaknya dari hujan, surat-surat identitas, dan beberapa foto lama -- ketika keluarga tersebut melarikan diri ke desa orang tuanya, Zaw Mat Tat, selatan Maungdaw.

Keesokan harinya, tentara juga muncul di sana. Suaminya menjadi resah dan tiba-tiba pergi. Rabia belum pernah melihatnya sejak saat itu.

Ditinggal suami, Rabia harus berjuang bersama delapan anaknya, enam dari mereka berusia kurang dari 10 tahun. Dia terus berjalan mencari keselamatan. Malam itu, keluarga Nur menempuh perjalanan tiga jam ke Shah Porir Dwip, di sisi Sungai Naf wilayah Bangladesh.

Kini, keluarganya mengandalkan Nur untuk mencari nafkah. Saat masih di Myanmar, Nur menjual kembali hasil panen yang dibeli ayahnya secara grosir. Nur berharap bisa melakukan aktivitas penjualan serupa di Bangladesh.

"Saya tahu dia masih muda, tapi dia mengerti tanggung jawabnya. Dia tidak bertingkah seperti anak kecil lagi," kata ibu Nur.




(WIL)