WNI Diduga Istri Teroris Maute Ternyata DPO Kemenhan Filipina

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 06 Nov 2017 11:54 WIB
isiswniterorisme di filipina
WNI Diduga Istri Teroris Maute Ternyata DPO Kemenhan Filipina
Rumah yang diyakini disewa Isnilon Hapilon dan Omar Maute di kota Marawi, Filipina. (Foto: AFP/TED ALJIBE)

Metrotvnews.com, Iligan City: Minhati Midrais, warga negara Indonesia yang diduga istri dari teroris Omarkhayyam Maute, ternyata berada dalam daftar pencarian orang Kementerian Pertahanan Filipina. 

Kepolisian Filipina menangkap Minhati di sebuah rumah kontrakan di Barangay Tubod, Minggu 5 November 2017 pagi waktu setempat.

Minhati, yang dilaporkan berasal dari Indonesia, rupanya termasuk dalam daftar Perintah Penangkapan, Pencarian dan Penyitaan (ASSO) 1 yang dikeluarkan Kemenhan Filipina. Masuknya Minhati dalam daftar tersebut berarti dia dicari otoritas hukum Filipina karena 'berbahaya.'

Omarkhayyan sendiri merupakan salah satu pemimpin Maute, kelompok yang terafiliasi Islamic State (ISIS) dan melakukan pertempuran selama kurang lebih lima bulan di Marawi, Filipina. Dia melakukan perlawanan kepada militer Filipina bersama dengan pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang juga pemimpin ISIS di Asia Tenggara.

Keduanya dilaporkan tewas pada 16 Oktober lalu dalam pertempuran dengan militer Filipina.

Dalam penangkapan, Minhati sedang bersama enam anaknya, yang terdiri dari empat perempuan berusia 6, 7, 10, dan 12 tahun, dan dua laki-laki berusia sembilan bulan dan dua tahun.

Baca: Kemenlu Berusaha Pastikan Identitas WNI Diduga Istri Teroris Maute

Dilansir Inquirer, Senin, 6 November 2017, Kepala Polisi Iligan City Senior Supt. Leony Roy Ga, menuturkan dalam penangkapan disita pula barang bukti, berupa empat buah blasting cap atau detonator, dua buah kabel detonator, dan satu sumbu peledak.

Leony mengatakan, penyelidikan awal mengungkapkan bahwa Madrais tiba di Filipina pada 2012. "Berdasarkan paspornya, dia pergi ke negara ini tiga kali antara 2012 hingga 2016. Saat ini paspornya berakhir pada 2016," ujarnya.

Ia menyebut Minhati merupakan seorang guru. Meski demikian, dia tidak menyebutkan apa yang diajarkan oleh perempuan asal Indonesia tersebut.

Minhati menceritakan dia bertemu dengan Omarkhayyam saat sama-sama mengenyam pendidikan di Mesir. "Keduanya merupakan teman sekelas di Mesir," imbuh Leony.

dia menambahkan, anak-anak Minhati juga diduga telah diajarkan paham radikal. Pasalnya, beberapa anaknya sering mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat yang sering digunakan ISIS.

Meski demikian, Leony menyebutkan Minhati akan sangat membantu dalam perang melawan terorisme, jika dia mau bekerja sama dan memberi informasi lengkap kepada otoritas.

Leony menuturkan, saat ini ponsel Minhati menjadi subjek pemeriksaan forensik.

 


(WIL)