Densus 88: ISIS Coba Duduki Poso sebagai Markas di Asia Tenggara

Sonya Michaella    •    Rabu, 30 Nov 2016 15:12 WIB
terorismeisis
Densus 88: ISIS Coba Duduki Poso sebagai Markas di Asia Tenggara
Kabid Investigasi Densus 88 Faisal Tayib di Universitas Indonesia (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Depok: Terjepitnya kelompok Islamic State (ISIS) di wilayah Timur Tengah akan menjadi ancaman bagi wilayah Asia. Sebab, ada indikasi bahwa ISIS akan bergerak merangsek masuk ke Asia, terutama Asia Tenggara.
 
"Makanya, kami mengimbau pemerintah agar segera cepat mengambil alih wilayah Poso. Mereka sudah mengincar Poso sebagai 'markas' mereka di Asia, selain di Filipina Selatan," ucap Kabid Investigasi Densus 88, Faisal Tayib, pada Simposium mengenai terorisme di Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial, Universitas Indonesia, Depok, Rabu (30/11/2016).
 
Menurut penuturan Faisal, afiliasi-afiliasi atau pecahan dari ISIS akan mencoba menguasai Poso terlebih dahulu, seperti halnya kelompok Abu Sayyaf yang sudah menguasai wilayah Mindanao, Filipina Selatan.
 
"Apalagi Filipina Selatan itu kan berbatasan juga dengan Indonesia. Ini yang harus kita waspadai. Mereka bisa dengan mudah masuk dan menduduki Poso," ucapnya lagi.
 
Dalam menghalau hal ini, Faisal mengatakan ada kerja sama ASEANPOL di mana negara-negara ASEAN berdiskusi dan merencanakan rencana kewaspadaan untuk meredam terorisme di wilayah Asia.
 
"Ada capacity building juga antara negara-negara ASEAN. Setiap tahun ada pertemuannya, dan kita mengirimkan lima sampai enam wakil kita untuk pertemuan ini," ungkap Faisal.

(Baca: Kelompok Teroris Mulai Cari Dana Lewat Situs Investasi Online).

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Tavares juga menegaskan hal yang sama, bahwa jika terorisme masuk ke wilayah Asia, hal tersebut akan merusak apa yang sudah dibangun oleh ASEAN.
 
ASEAN yang selama ini mengedepankan stabilitas, kedamaian dan keseimbangan pun dengan terang-terangan berusaha membuat kawasannya bebas dari terorisme dan ekstremisme.
 
Jose menambahkan bahwa kini perekrutan militan-militan semakin marak. Bahkan, anak kecil dan remaja pun dicuci otaknya demi masuk menjadi anggota kelompok militan tersebut dan bergabung untuk menghancurkan dunia.

(FJR)