Menlu Bahas Peningkatan Perlindungan WNI di Malaysia

Nur Azizah    •    Sabtu, 18 Mar 2017 23:25 WIB
tkiperlindungan wni
Menlu Bahas Peningkatan Perlindungan WNI di Malaysia
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno L.P Marsudi menyampaikan pernyataan pers di Kementerian Luar Negeri. (Foto: Antara/Suwandy).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berkunjung ke Penang dan Johor, Malaysia. Kunjungannya itu untuk membicarakan perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di kedua wilayah tersebut.

Selama tiga hari ke depan, Retno akan mendatangi tempat-tempat tenaga kerja Indonesia (TKI), mengunjungi penampungan (shelter) bagi WNI yang bermasalah, meluncurkan inovasi pelayanan publik, dan melakukan pertemuan dengan Menteri Besar Penang.

Siang tadi, Retno berkunjung ke tengah perkebunan kelapa sawit di kawasan Penang. Retno ingin mendengar langsung keluhan TKI  yang berkerja di sana. Dia juga menyempatkan diri untuk berbicara dengan pihak manajemen.

Setelah itu, Retno bertolak ke industri padat teknologi, Plexus Riverside yang sebagian besar tenaga kerjanya adalah tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia.

Dari pertemuan tersebut, Retno mencatat sejumlah masalah yang dihadapi para TKI, baik masalah yang dihadapi di Malaysia maupun di Indonesia.

"Masalah yang ada di Malaysia telah saya mintakan kepada manajemen untuk diselesaikan dan akan saya sampaikan juga kepada Pemerintah Malaysia. Sementara masalah yang ada di hulu, telah saya komunikasikan kepada menteri terkait untuk dicarikan penyelesaiannya," ujar Retno dalam keterangan tertulisnya, Jakara, Sabtu, 18 Maret 2017.

Sementara itu, beberapa inovasi pelayanan bagi WNI yang diluncurkan di Malaysia, antara lain pemantauan proses pembuatan paspor secara daring dan pencanangan kebijakan non-tunai dalam pembayaran pelayanan.

Di KJRI Johor Bahru, Retno meluncurkan Indonesian Community Center yang menyediakan fasilitas klinik bagi TKI dan sekaligus menjadi Pusat Pelatihan Keterampilan bagi TKI.

"Inovasi pelayanan publik di Perwakilan RI adalah suatu keharusan. Saya telah minta kedua Perwakilan RI untuk menyiapkan inovasi lainnya dalam enam bulan ke depan, termasuk sistem pendaftaran pembuatan paspor secara online dan pelaksanaan program jemput bola pelayanan keimigrasian dan konsuler ke sentra-sentra TKI," ucap dia.
 


(HUS)