Kecam Kekerasan di Rakhine, Tiongkok Kirim Utusan Temui Wapres Myanmar

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 05 Sep 2017 15:55 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Kecam Kekerasan di Rakhine, Tiongkok Kirim Utusan Temui Wapres Myanmar
Warga Rohingya yang mengungsi dari wilayah Rakhine, berkumpul di wilayah perbatasan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Naypyitaw: Pemerintah Tiongkok mengirimkan utusan khususnya ke Myanmar untuk membahas masalah kekerasan yang terjadi di Rakhine. Sun Guoxiang, utusan khusus Tiongkok tersebut bertemu dengan Presiden Myanmar dan Ketua Komisi Investigasi Pemerintah di Maungdaw, U Myint Swe.
 
Sun mengatakan pemerintah dan rakyat Tiongkok mengecam keras serangan di negara bagian Rakhine utara.
 
"Kami mengutuk serangan tersebut. Kami telah sampaikan belasungkawa dan simpati kami kepada keluarga korban tewas yang tengah berduka," kata Sun kepada wakil presiden tersebut, seperti dilansir dari laman The Irrawaddy, Selasa 5 September 2017.
 
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang kantor polisi pada 25 Agustus lalu dan menewaskan 59 militan dan 12 petugas keamanan kala itu. Sejak saat itu, bentrokan masih terus terjadi hingga kini.
 
 
Pemerintah menganggap ARSA sebagai organisasi teroris dan harus diperangi. Pada konferensi pers Kementerian Luar Negeri Tiongkok 31 Agustus lalu, Juru Bicara Kemenlu Hua Chunying mengatakan negaranya mendukung Myanmar dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Rakhine.
 
"Tiongkok, sebagai tetangga yang ramah, mendukung upaya Myanmar dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di negara bagian Rakhine," seru Hua kala itu.
 
Kekhawatiran Tiongkok mengenai Rakhine terkaitdalam kepentingan One Belt One Road Initiative (OBOR). Pasalnya, Rakhine memainkan peran penting dalam OBOR lantaran merupakan jalan kelaur ke Samudra Hindia dan lokasi proyek Tiongkok yang berjumlah miliaran dolar itu.
 
Sebelum bertemu dengan Wapres Myanmar, Sun juga bertemu dengan pejabat pemerintah Bangladesh dan ketua Komisi Penasihat Rakhine Kofi Annan.

Peran aktif Indonesia

Dalam pertemuan dengan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi pada Senin 4 September, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan usulan formula 4+1. (Baca: Bertemu Suu Kyi, Menlu RI Sampaikan Empat Usulan Indonesia). 

Menlu menyampaikan, empat usulan itu terdiri dari, pertama mengenai perdamaian dan keamanan, kedua perlindungan maksimum, menahan diri dan tanpa kekerasan, ketiga perlindungan tanpa memandang etnis dan agama, serta akses penyaluran bantuan kemanusiaan.

Satu usulan lainnya adalah implementasi laporan Kofi Annan, Ketua Komisi Penasihat Negara Bagian Rakhine yang ditunjuk Pemerintah Myanmar sendiri. Menurut Menlu Retno, Suu Kyi menanggapi positif usulan dengan formula 4+1 yang disampaikan Indonesia.

Selain dengan Suu Kyi, Menlu Retno telah bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar dan tiga menteri terkait krisis di Rakhine, yang hingga sejauh ini telah menewaskan sekitar 400 orang. 
 


 


(FJR)

Bersama Membantu Rohingya

Bersama Membantu Rohingya

1 hour Ago

AUNG San Suu Kyi oleh dunia internasional sesungguhnya dinilai memiliki semua prasyarat yang diperlukan…

BERITA LAINNYA