2018, Sekolah Berasrama dan Puskesmas Telemedicine Hadir di Papua

Sonya Michaella    •    Senin, 21 Aug 2017 15:01 WIB
diaspora indonesia
2018, Sekolah Berasrama dan Puskesmas Telemedicine Hadir di Papua
Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI Bambang Brodjonegoro (Foto:Antara/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI Bambang Brodjonegoro membeberkan fokus pemerintah yang utama dalam pembangunan Papua dan Papua Barat tak lain adalah pendidikan dan kesehatan.

Dengan dibantu oleh Diaspora Indonesia serta ahlinya dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Australi, sekolah asrama dan puskemas dengan telemedicine segera diwujudkan di Papua dan Papua Barat.

"Fokusnya yang utama adalah pelayanan dasar. Kita harus berpikir mengenai kualitas pendidikan dan akses kesehatan di sana," kata Bambang pad paparannya dalam Kongres Diaspora Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin 21 Agustus 2017.

Dalam bidang pendidikan, sekolah berasrama akan dibangun di Papua. Sekolah berasrama ini tentunya diharapkan akan membantu para siswa dan siswi di Papua agar tak kesusahan dalam akses transportasi.

"Mereka itu kalau mau sekolah harus menempuh jarak yang jauh sekali. Jalan kaki bolak-balik, kan kasihan. Sudah capek, tidak konsentrasi di sekolah. Makanya kita akan bangun ini, utamanya untuk SD kelas 4 sampai SMA," tegas dia.

Untuk telemedicine, Bambang menjelaskan bahwa sejumlah puskesmas di Papua akan mempunyai teknologi ini, misalnya di Sorong dan Nabire. Telemedicine sendiri merupakan sebuah teknologi di mana para tenaga medis yang ada di Papua nantinya akan terhubung dengan para dokter di Jakarta, dalam menangani pasien agar tidak salah langkah.

Syarat agar telemedicine ini berjalan lancar adalah akses internet. Bambang mengemukakan, Palapa Ring akses internet untuk Papua direncanakan akan rampung pada 2018. Otomatis, telemedicine bisa digalakkan mulai tahun depan pula. 

"Dokter atau siapapun yang di puskemas setempr terhubung dengan rumah sakit pengampu atau pembina di Jakarta. Penanganan juga tergantung penyakitnya. Jika ringan, bisa dirujuk di rumah sakit terdekat. Jika berat atau memerlukan operasi, bisa dirujuk ke Jakarta," ucap dia.

Telemedicine ini akan berguna untuk memantau penanganan pasien di Papua dan Papua Barat. Begitu sang pasien memeriksakan diri, seluruh data dirinya pun akan masuk dalam database rumah sakit pembina di Jakarta.

"Jadi dokter di Jakarta bisa tahu masalahnya apa saja, dan memberitahu tindakan apa yang harus diambil agar tidak salah langkah," tukas dia.

 


(WAH)