Temui Tokoh Islam, Menlu Dengar Pandangan Terkait Isu Rakhine

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 02 Sep 2017 18:28 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Temui Tokoh Islam, Menlu Dengar Pandangan Terkait Isu Rakhine
Menlu Retno L.P Marsudi membahas isu Rakhine dengan beberapa tokoh Islam Indonesia (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L.P Marsudi melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh Islam Indonesia. Pertemuan membahas tentang isu Rakhine, khususnya Rohingya.
 
Dalam pertemuan ini Menlu Retno ditemani oleh Wakil Menlu A.M Fachir pada Sabtu 2 September 2017. Tampak  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj hadir dalam pertemuan ini.
 
"Menlu Retno bertemu dengan tokoh-tokoh Islam bahas situasi di Rakhine State dan menyampaikan perkembangan dan langkah cepat pemerintah (RI) tanggapi situasi di sana," pernyataan pihak Kemenlu RI, dalam akun Twitter resmi Kemenlu RI yang disitat Metrotvnews.com,  Sabtu, 2 September 2017.
 
"Menlu Retno mendengarkan pandangan dan masukan tokoh-tokoh Islam Indonesia terkait situasi Rakhine State," lanjut pernyataan itu.
 
Ketika ditemui wartawan di  Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Said Aqil mempertanyakan sikap Aung San Suu Kyi yang selalu diam melihat kondisi kekerasan di Rakhine, khusus terhadap Muslim Rohingya. Menurut Said, penghargaan Nobel Perdamaian yang diraih Suu Kyi tidak berarti jika membiarkan kejahatan terjadi di Rakhine.
 
 
Said menilai kekerasan terhadap muslim Rohingya sebagai kejahatan kemanusiaan. Ia menduga pemicu konflik tersebut lantaran Rohingya bukan warga asli Myanmar.
 
"Ini kejahatan kemanusiaan, bukan agama. Ajaran Budha sangat tinggi sebenarnya, bersatu dengan Tuhan, tidak mengajarkan kebiadaban seperti itu," kata dia.
 
Dia berharap pemerintah Indonesia bisa menjadi penengah dan ikut meredam konflik tersebut. Said mengimbau agar masyarakat Indonesia tak mudah terprovokasi.
 
Komunikasi dengan PBB
 
Dalam kesempatan terpisah, Menlu Retno melakukan komunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membahas isu Rakhine. Komunikasi lewat telepon itu berlangsung pada Jumat 1 September malam, selama 16 Menit.
 
Sekjen PBB mengapresiasi peran Indoneia dan mengharapkan Indonesia melanjutkan perannya dalam membantu menyelesaikan krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Rakhine State.
 
Dalam pembicaraan tersebut, Menlu dan Sekjen PBB menyampaikan keprihatinannya atas kondisi ribuan etnis Rohingya atas konflik yang memanas sepekan terakhir ini. Menlu Retno juga terus menyerukan imbauan Pemerintah Indonesia kepada Myanmar untuk menghentikan aksi tersebut.
 
 
Sebelumnya, mantan Sekjen PBB Kofi Annan juga berbicara kepada Retno melalui sambungan telepon. Menurut Retno, Annan mengapresiasi kinerja pemerintah Indonesia dalam membantu penyelesaian konflik di Myanmar.
 
“Kofi Annan menelepon saya, kita bicara juga tetapi lebih dalam konteks bagaimana Indonesia dapat berkontribusi dalam mengimplementasikan hasil Advisory Commission on Rakhine State Kofi Annan,” ujar Retno di Jakarta beberapa waktu lalu.
 
Advisory Commission on Rakhine State Kofi Annan adalah Komisi Penasihat yang digagas Kofi Annan untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara bagian Rakhine. Komisi ini terdiri dari enam ahli lokal dan tiga ahli internasional. Komisi dibentuk secara imparsial.

 

 
(FJR)